Selamat datang dan berjumpa kembali bersama Lummatun, tempatnya kita belajar bareng kaitan dengan website, bisnis, dan marketing online.
WhatsApp Marketing adalah strategi pemasaran yang menggunakan pesan WhatsApp sebagai saluran komunikasi utama untuk berinteraksi dengan pelanggan atau calon pelanggan. Adapun tujuannya adalah untuk mempromosikan produk atau layanan, meningkatkan kesadaran merek, dan penjualan.
Tips Marketing di WhatsApp.

Berikut beberapa tips marketing menggunakan WhatsApp untuk promosi:
1. Ketahui Target Audience Anda.
Langkah pertama, identifikasi siapa target audiens Anda. Apakah mereka pelanggan yang sudah ada atau calon pelanggan?
Hal ini akan membantu Anda menyusun pesan yang sesuai.
Contoh:
Kang Mursi adalah seorang pedagang kecil di pasar tradisional di desa kecilnya. Ia berpikir untuk memulai kampanye pemasaran melalui WhatsApp guna meningkatkan penjualan sayur-sayuran organik yang dihasilkannya.
Sebelum dia mulai, Kang Mursi pertama-tama berhenti sejenak untuk berpikir.
Kang Mursi duduk di bawah pohon jambu di kebunnya, lalu berkata pada dirinya sendiri,
“Oke, sebelum aku mulai mengirim pesan, aku perlu mengidentifikasi siapa yang akan menjadi audiens utamaku.
Apakah mereka pelanggan setia yang telah sering membeli produkku, ataukah mereka calon pelanggan yang belum pernah aku ajak bicara sebelumnya?”
Kang Mursi kemudian mulai memikirkan karakteristik pelanggannya yang sudah ada.
Ia menyadari bahwa sebagian dari mereka adalah ibu rumah tangga yang peduli tentang makanan sehat untuk keluarganya. Sementara itu, untuk calon pelanggan, Kang Mursi berpikir bahwa mereka mungkin adalah warga desa sekitar yang belum pernah mencoba produk organiknya.
Setelah mengidentifikasi audiensnya, Kang Mursi pun mulai menyusun pesan yang sesuai.
Untuk pelanggan yang sudah ada, ia berfokus pada menginformasikan tentang produk baru yang mungkin mereka sukai. Sedangkan untuk calon pelanggan, ia mengirim pesan yang mengenalkan dirinya dan manfaat dari sayur-sayuran organik yang dijualnya.
Dengan pendekatan yang sesuai terhadap audiensnya, Kang Mursi berhasil meningkatkan penjualannya melalui WhatsApp, berkat langkah pertama yang bijak dalam mengidentifikasi siapa yang menjadi target audiensnya.
2. Gunakan Pesan yang Terhubung dengan Pelanggan.
Jangan terlalu promosi. Cobalah untuk membangun hubungan dengan pelanggan Anda melalui pesan yang lebih pribadi dan ramah.
Contoh:
Kang Mursi telah memulai kampanye pemasaran melalui WhatsApp untuk produk sayur-sayuran organiknya. Namun, Kang Mursi tidak ingin terlalu agresif dalam pendekatannya.
Sebaliknya, ia ingin membangun hubungan yang baik dengan pelanggannya.
Satu hari, Kang Mursi mengirim pesan kepada seorang pelanggan setianya, Ibu Siti.
Pesannya tidak hanya berisi tawaran produk, tetapi juga mengandung pesan yang lebih pribadi dan ramah. Ia menulis,
“Halo Ibu Siti, semoga Anda dan keluarga selalu sehat. Saya baru saja memetik segar sayur-sayuran organik terbaik dari kebun kami. Apakah Anda tertarik untuk mencobanya minggu ini?”
Ibu Siti merasa senang mendapatkan pesan pribadi seperti ini dari Kang Mursi. Ia merasa dihargai sebagai pelanggan. Ibu Siti pun merespons dengan baik,
“Halo Kang Mursi, terima kasih atas pesannya. Tentu saja, saya akan memesan beberapa sayur-sayuran organik dari Anda.”
Melalui pendekatan yang lebih pribadi dan ramah seperti ini, Kang Mursi tidak hanya berhasil menjual produknya, tetapi juga berhasil membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan setianya.
3. Membuat Jadwal Kiriman yang Tepat.
Pastikan untuk mengirim pesan pada waktu yang sesuai dan tidak mengganggu pelanggan Anda, seperti saat jam kerja.
Contoh:
Kang Mursi sangat memperhatikan waktu saat mengirim pesan kepada pelanggan-pelanggannya. Ia tahu bahwa mengirim pesan pada waktu yang tepat dapat membuat pelanggan merasa dihormati dan tidak terganggu.
Suatu hari, Kang Mursi berencana untuk mengirim pengumuman spesial tentang penawaran sayur-sayuran organik terbaru kepada semua pelanggannya. Namun, ia tahu bahwa tidak semua waktu cocok untuk mengirim pesan semacam itu.
Kang Mursi memutuskan untuk menunggu sampai malam hari, setelah sebagian besar pelanggan sudah selesai dengan aktivitas sehari-hari mereka.
Pada pukul 20.00, ketika kebanyakan orang sudah bersantai di rumah, Kang Mursi mengirim pesan singkat kepada semua pelanggannya.
Pesan itu berisi,
“Selamat malam, pelanggan setia kami! Kami memiliki penawaran istimewa untuk sayur-sayuran organik terbaru. Klik di sini untuk melihat lebih lanjut.”
Kang Mursi mendapatkan banyak tanggapan positif dari pelanggan yang menghargai fakta bahwa ia tidak mengganggu mereka selama jam kerja atau waktu makan. Pendekatan ini membantu menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan meningkatkan kesempatan bagi mereka untuk memeriksa tawaran terbaru.
4. Kreatif dalam membuat Konten.
Buatlah konten marketing yang menarik, seperti gambar, video, atau audio, yang relevan dengan produk atau layanan Anda.
Contoh:
Kang Mursi adalah seorang petani yang menjual sayur-sayuran organik. Ia tahu bahwa untuk menjual produknya dengan baik melalui WhatsApp, ia perlu membuat konten yang menarik dan relevan.
Suatu pagi, Kang Mursi pergi ke kebunnya untuk memetik beberapa sayur-sayuran segar.
Di sana, ia mengambil beberapa foto dan video dengan ponselnya. Ia juga merekam suara burung-burung yang bernyanyi di kebunnya.
Kang Mursi kembali ke rumah dan mulai menyusun pesan untuk pelanggannya.
Ia melampirkan foto-foto sayur-sayuran segar yang baru dipetiknya dan menggambarkan kebaikan kesehatan dari produk-produk tersebut. Ia juga membagikan video singkat tentang proses penanaman yang ramah lingkungan di kebunnya.
Selain itu, Kang Mursi menambahkan rekaman suara burung-burung sebagai latar belakang dalam pesannya untuk memberikan nuansa yang lebih alami dan segar.
Ia menulis,
“Selamat pagi, teman-teman! Inilah sayur-sayuran segar dari kebun kami. Kami ingin berbagi kebaikan dan kelezatan alam bersama Anda.”
Pelanggan Kang Mursi merasa senang dan terkesan dengan pesan tersebut. Mereka merasa terhubung dengan alam dan merasa bahwa produk Kang Mursi adalah pilihan yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan konten yang menarik dan relevan seperti ini, Kang Mursi berhasil meningkatkan minat pelanggan terhadap produk organiknya.
5. Mempertahankan Etika Pemasaran.
Jangan spam pelanggan Anda dengan pesan berulang-ulang. Hargai privasi mereka dan beri mereka pilihan untuk berhenti berlangganan.
Contoh:
Kang Mursi adalah seorang petani yang bijak dalam menggunakan WhatsApp untuk memasarkan sayur-sayuran organiknya. Ia selalu berusaha untuk tidak mengganggu pelanggannya dengan pesan berulang-ulang dan menghargai privasi mereka.
Suatu saat, Kang Mursi merasa sangat bersemangat tentang penawaran khusus untuk produk sayur-sayuran organik terbarunya. Namun, ia tahu bahwa penting untuk tidak terlalu mengganggu.
Kang Mursi membuat satu pesan yang sangat menarik tentang penawaran tersebut dan mengirimkannya ke seluruh pelanggan WhatsApp-nya.
Namun, ia tidak mengulangi pesan itu berulang-ulang dalam waktu singkat. Sebaliknya, ia memberikan pilihan kepada pelanggannya.
Di akhir pesannya, Kang Mursi menambahkan,
“Kami senang berbagi penawaran istimewa ini dengan Anda. Jika Anda ingin tetap mendapatkan update tentang produk kami, cukup balas ‘Ya.’ Tapi jika Anda ingin berhenti menerima pesan dari kami, balas ‘Stop.'”
Dengan memberikan pilihan ini kepada pelanggan, Kang Mursi memberi mereka kendali atas komunikasi. Beberapa pelanggan memilih untuk tetap berlangganan, sementara yang lain mungkin memilih untuk berhenti berlangganan untuk sementara waktu.
Pendekatan ini membantu Kang Mursi menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan tetap menjaga etika pemasaran.
6. Responsif Terhadap Pelanggan.
Jawab pertanyaan atau tanggapan dari pelanggan dengan cepat. Ini menunjukkan perhatian Anda terhadap mereka.
Contoh:
Salah satu prinsip utama yang diterapkan oleh Kang Mursi adalah responsivitas terhadap pertanyaan atau tanggapan dari pelanggan.
Suatu hari, salah satu pelanggan, Pak Budi, mengirim pesan kepada Kang Mursi,
“Halo Kang Mursi, saya mencoba sayur-sayuran organik Anda minggu lalu dan saya suka sekali rasanya.
Apakah Anda memiliki jenis sayuran lain yang bisa saya coba?”
Kang Mursi dengan cepat merespons pesan Pak Budi,
“Halo Pak Budi, terima kasih atas dukungannya.
Kami memiliki berbagai jenis sayuran organik yang bisa Anda coba. Kami memiliki tomat ceri, brokoli, dan bayam segar minggu ini.
Apakah Anda tertarik pada salah satunya?”
Pak Budi merasa senang mendapatkan respons yang cepat dari Kang Mursi. Ia segera membalas,
“Saya ingin mencoba brokoli. Tolong sisihkan satu untuk saya.”
Kang Mursi tidak hanya menjual produknya, tetapi juga memberikan pengalaman pelanggan yang baik dengan tanggap terhadap pertanyaan dan permintaan mereka.
Hal ini membuat pelanggan merasa dihargai dan memiliki hubungan yang kuat dengan Kang Mursi sebagai penjual.
7. Memanfaatkan Grup dan Broadcast List.
Anda bisa menggunakan fitur grup atau daftar siaran untuk mengirim pesan ke banyak orang sekaligus. Pastikan pesan tersebut relevan untuk semua anggota.
8. Melakukan Analisis Hasilnya.
Pantau metrik seperti tingkat buka pesan, tingkat respons, dan konversi. Ini akan membantu Anda memahami seberapa efektif strategi Anda.
9. Menguji Strategi Marketing yang Baru.
Cobalah berbagai jenis pesan, waktu pengiriman, dan strategi untuk melihat mana yang paling berhasil. Terus pelajari dan tingkatkan strategi Anda.
Contoh:
Kang Mursi selalu berusaha untuk meningkatkan efektivitas kampanye pemasarannya melalui WhatsApp. Ia memahami pentingnya untuk terus belajar dan mengadaptasi strateginya.
Suatu waktu, Kang Mursi mencoba pendekatan yang berbeda. Ia memutuskan untuk mengirim pesan kepada pelanggannya pada dua waktu yang berbeda dalam sehari.
Pagi hari, ia mengirim pesan tentang produk-produk segar yang baru dipetik dari kebunnya, dan malam hari, ia mengirim pesan yang lebih menekankan pada kebaikan makanan organik bagi kesehatan.
Setelah beberapa minggu melihat hasilnya, Kang Mursi menganalisis data kampanyenya.
Ia menemukan bahwa pesan yang dikirim pada pagi hari mendapatkan lebih banyak respons daripada yang dikirim pada malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggan lebih responsif saat mereka masih segar di pagi hari.
Kang Mursi juga mencoba berbagai jenis pesan, termasuk gambar produk, video proses penanaman, dan testimoni pelanggan. Ia melihat bahwa video proses penanaman mendapatkan reaksi yang sangat positif dari pelanggan, yang lebih suka melihat bagaimana sayur-sayuran organiknya ditanam dengan cinta dan perawatan.
Dengan hasil percobaan ini, Kang Mursi tidak hanya meningkatkan strategi pemasarannya, tetapi juga terus belajar dari pengalaman untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggannya.
Dan ini adalah contoh bagaimana belajar dan mengadaptasi strategi pemasaran dapat membantu dalam meningkatkan hasil dan hubungan dengan pelanggan.
Cukup sekian dan semoga bermanfaat.










