Apa Itu Negosiasi Bisnis?
Negosiasi dalam bisnis itu bukan sekadar soal siapa yang menang atau kalah.
Negosiasi itu tentang mencari kesepakatan terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak: kamu sebagai pemilik UMKM dan mereka sebagai supplier atau partner bisnis.
Kalau kamu jago negosiasi, kamu bisa:
- Dapat harga bahan baku lebih murah.
- Mendapatkan syarat pembayaran yang lebih fleksibel (misal: bayar tempo).
- Memperoleh bonus tambahan seperti diskon kuantitas, gratis ongkir, atau dukungan promosi.
Negosiasi yang baik itu harus saling menguntungkan (“win-win solution”), supaya hubungan bisnis kamu tetap harmonis dan jangka panjang.
Kenapa Negosiasi Penting dalam UMKM?
- Modalmu terbatas, jadi penghematan sekecil apapun itu berarti.
- Kamu butuh partner bisnis yang bisa diajak berkembang bareng.
- Harga bahan baku, sistem pengiriman, dan syarat pembayaran akan sangat berpengaruh ke laba dan kelangsungan usaha.
Makanya, negosiasi itu skill wajib, bukan sekadar tambahan.

Seni Negosiasi : Cara Cerdas Berunding dengan Supplier dan Partner
1. Persiapkan Diri Sebelum Negosiasi
Sebelum ketemu supplier/partner, kamu harus sudah siap:
- Tahu harga pasar: Cari tahu harga normal dari produk/jasa yang kamu butuhkan.
- Tahu kebutuhanmu: Mau beli berapa banyak? Seberapa rutin? Termasuk kebutuhan lain seperti packaging, pengiriman, dsb.
- Tahu batas maksimalmu: Sampai harga berapa kamu masih mau lanjut, dan kapan kamu harus berhenti.
Contoh:
Kamu mau beli bahan baku kain. Setelah cek pasar, harga normal Rp 30.000/meter. Kamu target negosiasi supaya bisa dapat di bawah Rp 28.000/meter.
2. Bangun Hubungan Baik di Awal
Jangan langsung “nembak” harga di awal pertemuan. Mulailah dengan obrolan santai: tanya kabar, puji usaha mereka, tunjukkan ketertarikan.
Manusia cenderung lebih lunak kalau merasa dihargai.
Contoh:
“Saya lihat produk Bapak banyak dipakai oleh pengusaha sukses, keren sekali ya. Semoga saya bisa ikut sukses juga pakai produk Bapak.”
3. Ajukan Penawaran dengan Sopan dan Cerdas
Kalau suasana sudah cair, baru masuk ke inti. Ajukan tawaranmu dengan:
- Bahasa sopan (hindari kesan maksa).
- Alasan logis (kenapa minta potongan atau syarat khusus).
- Tunjukkan potensi kerjasama jangka panjang.
Contoh kalimat:
“Kalau saya rutin beli 50 meter kain setiap bulan, bisa dapat harga khusus nggak, Pak? Supaya saya juga bisa langganan terus ke sini.”
4. Gunakan Teknik “Give and Take”
Dalam negosiasi, kadang kamu perlu memberi sesuatu untuk dapat sesuatu.
Misal:
- Kamu minta diskon, tapi kamu siap beli dalam jumlah lebih besar.
- Kamu minta pembayaran mundur (tempo), tapi kamu setuju kontrak pembelian rutin.
Contoh:
“Kalau saya order 500 pcs sekalian, bisa free ongkir ke workshop saya?”
5. Bersikap Fleksibel, Tapi Tetap Tegas
Kalau ternyata supplier tidak bisa memenuhi semua permintaanmu, jangan langsung mundur. Cari jalan tengah yang masih masuk akal buat dua-duanya.
Tapi ingat, jangan mengorbankan kebutuhan utama bisnis kamu hanya demi kompromi.
Contoh:
“Oke, kalau nggak bisa Rp 28.000, bagaimana kalau Rp 28.500 plus bonus 10 meter setiap pembelian 500 meter?”
6. Tutup dengan Konfirmasi Jelas
Setelah deal, langsung buat kesepakatan tertulis: invoice, perjanjian, atau minimal bukti chat tertulis (WhatsApp, email).
Ini untuk:
- Mencegah salah paham di kemudian hari.
- Melindungi kamu kalau ada masalah.
Contoh sederhana:
“Baik Pak, jadi sesuai kesepakatan, saya beli 500 meter per bulan dengan harga Rp 28.500/meter, free ongkir, dan dapat bonus 10 meter ya, Pak?”
Tips Tambahan Supaya Negosiasimu Lebih Kuat
- Selalu jaga sikap ramah meskipun tawaranmu ditolak.
- Berani jalan kalau tawaran tidak masuk akal (jangan takut kehilangan 1 supplier, cari alternatif).
- Bangun reputasi sebagai pembeli yang serius: tepat bayar, konsisten, dan menjaga hubungan.
- Belajar membaca ekspresi dan intonasi lawan bicara, ini membantu kamu tahu kapan harus menekan atau menahan diri.
- Catat semua detail hasil negosiasi buat referensi ke depan.
Kesimpulan
Negosiasi dalam UMKM bukan soal menang-menangan, tapi soal membangun kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan. Dengan persiapan, komunikasi santun, teknik give-and-take, dan sikap profesional, kamu bisa dapat banyak keuntungan yang membuat bisnismu lebih kokoh dan menguntungkan.
Contoh Negosiasi Cerdas UMKM
(Menggunakan Nama “Kang Mursi”)
Situasi:
Kang Mursi punya usaha UMKM di bidang produksi baju casual. Ia mau negosiasi dengan supplier kain agar bisa dapat harga lebih murah dan syarat pembayaran yang lebih ringan.
Awal Pertemuan
Kang Mursi:
“Assalamualaikum, Pak Anwar. Apa kabar? Wah, toko Bapak makin ramai saja ya sekarang, kelihatan sukses terus nih.
Saya Kang Mursi, baru mau mulai produksi baju casual, dan dengar dari teman, kualitas kain di tempat Bapak ini memang jempolan.”
(Tujuannya: Bangun suasana positif dulu sebelum masuk ke pembahasan harga.)
Mulai Masuk ke Negosiasi
Kang Mursi:
“Kebetulan untuk produksi pertama ini, saya butuh sekitar 500 meter kain katun premium.
Kalau untuk order rutin kayak gitu, ada harga khusus nggak, Pak? Saya pengen jalan lama sama Bapak, kalau cocok, setiap bulan bisa tambah lagi volumenya.”
(Bahasa sopan, sambil menunjukkan potensi pembelian jangka panjang.)
Supplier Menjawab
Pak Anwar:
“Kalau biasanya harga normalnya Rp 30.000 per meter, Kang. Tapi kalau rutin, mungkin bisa saya kasih Rp 29.000.”
Kang Mursi Menanggapi dengan Teknik “Give and Take”
Kang Mursi:
“Wah, terima kasih, Pak.
Kalau saya ambil 700 meter sekalian di awal ini, bisa nggak dikasih Rp 28.000?
Nanti ke depannya, saya komitmen minimal 500 meter per bulan, dan semua pembelian langsung cash, nggak pakai tempo.”
(Kang Mursi menawarkan pembelian lebih besar di awal sebagai “balasan” untuk permintaan harga lebih murah.)
Mencapai Kesepakatan
Pak Anwar:
“Hmm… Oke lah Kang. Tapi syaratnya ambil 700 meter ya sekarang. Dan nanti kalau rutin, minimal ambil 500 meter tiap bulan.”
Kang Mursi:
“Siap, Pak. Terima kasih banyak. Saya minta dikonfirmasi ya, jadi: harga Rp 28.000/meter, minimal 500 meter per bulan, pembayaran cash.
Biar saya catat sekalian, Pak.”
(Konfirmasi tertulis di akhir negosiasi supaya semuanya jelas.)
Ringkasan Hasil Negosiasi Kang Mursi
- Harga kain: Rp 28.000/meter (dari harga normal Rp 30.000/meter).
- Syarat: pembelian awal 700 meter, lalu minimal 500 meter/bulan.
- Pembayaran: cash.
- Hubungan dengan supplier tetap hangat dan profesional.
Catatan Penting dari Gaya Negosiasi Kang Mursi:
- Santun di awal.
- Tahu harga pasar.
- Berani menawarkan “imbal balik” (pembelian besar, pembayaran cash).
- Tegas saat mengkonfirmasi hasil.
- Membangun hubungan untuk jangka panjang.
Oke, sekarang aku buatkan contoh negosiasi Kang Mursi soal waktu pembayaran.
Situasi:
Kang Mursi sudah beberapa kali beli kain dari supplier (Pak Anwar) dan ingin mengajukan waktu pembayaran (tempo 30 hari) agar arus kas usahanya lebih longgar.
Awal Pertemuan
Kang Mursi:
“Assalamualaikum Pak Anwar. Alhamdulillah produksi baju saya makin lancar berkat bahan dari Bapak.Terima kasih banyak atas kerjasamanya selama ini.”
(Mulai dengan membangun hubungan positif dan menunjukkan bahwa Kang Mursi pelanggan setia.)
Masuk ke Pembahasan Permintaan
Kang Mursi:
“Pak, saya mau ngobrol sedikit soal sistem pembayaran.
Sekarang pesanan customer saya makin banyak, tapi pembayaran dari mereka rata-rata baru cair setelah barang jadi.Boleh nggak saya ajukan sistem pembayaran tempo 30 hari untuk pembelian berikutnya?
Jadi barang saya ambil sekarang, bayarnya maksimal dalam 30 hari.”
(Kang Mursi menyampaikan alasan logis kenapa minta tempo — soal cash flow — dan tetap sopan.)
Supplier Menanggapi
Pak Anwar:
“Wah, Kang, biasanya saya cash semua. Takutnya kalau banyak yang ngutang, usaha saya juga berat.”
Kang Mursi Menanggapi dengan Solusi
Kang Mursi:
“Saya paham banget, Pak. Supaya aman, bagaimana kalau kita buat surat perjanjian sederhana?
Saya juga siap kasih DP 30% di awal, sisanya saya lunasi maksimal 30 hari.
Kalau saya telat, saya siap bayar denda sesuai yang Bapak tentukan.”
(Kang Mursi tidak hanya minta, tapi juga menawarkan solusi: DP dan jaminan perjanjian — ini membuat supplier lebih tenang.)
Supplier Mulai Luluh
Pak Anwar:
“Kalau ada DP dan perjanjian, saya pikir lebih aman. Tapi kalau bisa, jangan sampai lewat 30 hari ya, Kang.”
Konfirmasi Akhir
Kang Mursi:
“Siap, Pak. Jadi kesepakatannya:
- Saya bayar DP 30% saat barang diambil.
- Pelunasan maksimal 30 hari.
- Ada perjanjian tertulis sebagai pegangan kita berdua.
InsyaAllah saya jaga amanah, Pak.”
(Kang Mursi mengulangi poin-poin penting untuk menghindari kesalahpahaman.)
Ringkasan Hasil Negosiasi Kang Mursi
- Sistem pembayaran: DP 30% + tempo 30 hari untuk pelunasan.
- Ada perjanjian tertulis sebagai jaminan.
- Hubungan dengan supplier tetap baik dan saling percaya.
Pelajaran dari Negosiasi Ini:
- Berikan alasan yang masuk akal waktu meminta syarat khusus.
- Tawarkan jaminan (DP, perjanjian, komitmen) untuk mengurangi keraguan partner.
- Sampaikan solusi, bukan sekadar permintaan.
- Konfirmasi ulang semua kesepakatan agar tidak terjadi miss komunikasi.
Oke, aku lanjutkan dengan contoh negosiasi Kang Mursi bersama partner soal bagi hasil usaha, supaya kamu bisa langsung membayangkan skenarionya.
Situasi:
Kang Mursi mau membuka usaha baru: kedai kopi sederhana. Ia menggandeng temannya, Kang Dedi, sebagai partner.
Mereka berdua perlu berunding soal bagaimana sistem bagi hasil keuntungan yang adil dan jelas dari awal.
Awal Pertemuan
Kang Mursi:
“Assalamualaikum Kang Dedi.
Terima kasih sudah mau barengan buka kedai kopi ini.
Saya optimis kalau kita kerja sama dengan baik, insyaAllah kedai ini bisa maju.”
(Membangun suasana positif dulu sebelum membahas angka.)
Mulai Pembahasan Bagi Hasil
Kang Mursi:
“Supaya usaha kita lancar dan adil, saya pikir kita perlu sepakati sistem bagi hasil dari awal, Kang.
Biar nanti nggak ada salah paham.”
(Tegas, tapi tetap dalam suasana kekeluargaan.)
Menjelaskan Peran dan Modal
Kang Mursi:
“Jadi gini, Kang:
- Saya akan menyediakan modal awal Rp 50 juta untuk sewa tempat, renovasi, dan beli alat-alat.
- Kang Dedi akan pegang operasional harian: belanja bahan, urus karyawan, jaga kualitas layanan, dan promosi di sosial media.”
(Jelaskan peran masing-masing supaya adil saat menentukan porsi.)
Mengajukan Skema Bagi Hasil
Kang Mursi:
“Karena saya modalin penuh dan Kang Dedi yang pegang operasional harian, saya usul pembagian keuntungannya seperti ini:
- 60% untuk saya (sebagai investor).
- 40% untuk Kang Dedi (sebagai pengelola).
Tapi ini masih usulan ya Kang, kita diskusiin bareng.”
(Memberikan angka awal tapi tetap membuka ruang diskusi.)
Partner Memberi Tanggapan
Kang Dedi:
“Kalau boleh usul, Kang, karena operasional itu berat dan butuh fokus terus-menerus, mungkin bisa lebih balance.
Misal 55% untuk Kang Mursi, dan 45% untuk saya?”
Mencari Jalan Tengah
Kang Mursi:
“Hmm, masuk akal sih Kang. Operasional harian itu memang berat.
Gimana kalau kita sepakat 55% untuk saya, 45% untuk Kang Dedi, dengan catatan semua laporan keuangan tetap transparan dan kita evaluasi pembagian ini setelah 6 bulan?”
(Kang Mursi fleksibel tapi tetap menjaga prinsip. Ada sistem evaluasi supaya adil di kedua pihak.)
Konfirmasi Kesepakatan
Kang Dedi:
“Setuju, Kang.
55% Kang Mursi, 45% saya, laporan keuangan transparan, dan ada evaluasi 6 bulan.”
Kang Mursi:
“Alhamdulillah. Nanti sekalian kita buatkan surat kesepakatan sederhana ya Kang, biar hitam di atas putih.”
Ringkasan Hasil Negosiasi Kang Mursi dan Kang Dedi
- Modal awal Rp 50 juta dari Kang Mursi.
- Operasional harian dipegang Kang Dedi.
- Bagi hasil keuntungan: 55% Kang Mursi – 45% Kang Dedi.
- Laporan keuangan transparan dan evaluasi setelah 6 bulan.
- Ada surat perjanjian sederhana untuk formalitas.
Pelajaran dari Negosiasi Ini:
- Bahas dulu peran dan kontribusi masing-masing sebelum bicara angka.
- Berikan ruang untuk tawar-menawar (nggak kaku dengan angka awal).
- Buat sistem transparansi dan evaluasi untuk menjaga keadilan jangka panjang.
- Dokumentasikan kesepakatan secara tertulis untuk menghindari masalah di kemudian hari.
Aku buatkan juga contoh template surat perjanjian kerja sama antara Kang Mursi dan Kang Dedi, yang bisa kamu gunakan sebagai referensi nyata.
SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA
Nomor: 001/SPK/KEDAI/IV/2025
Pada hari ini, Selasa, tanggal 29 April 2025, kami yang bertanda tangan di bawah ini:
- Nama : Kang Mursi
Alamat : Jl. Melati No. 123, Bandung
No. KTP : 3204123456780001
Selanjutnya disebut sebagai “PIHAK PERTAMA” - Nama : Kang Dedi
Alamat : Jl. Kenanga No. 456, Bandung
No. KTP : 3204765432100002
Selanjutnya disebut sebagai “PIHAK KEDUA”
Dengan ini sepakat untuk mengadakan kerja sama dalam bidang usaha Kedai Kopi, dengan ketentuan sebagai berikut:
Pasal 1
Maksud dan Tujuan
Para pihak sepakat untuk bekerja sama membuka dan mengelola usaha Kedai Kopi, dengan tujuan memperoleh keuntungan bersama.
Pasal 2
Peran dan Tanggung Jawab
- PIHAK PERTAMA bertanggung jawab menyediakan modal usaha sebesar Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) untuk kebutuhan sewa tempat, renovasi, perlengkapan, dan kebutuhan awal usaha.
- PIHAK KEDUA bertanggung jawab penuh dalam menjalankan operasional harian, termasuk belanja bahan baku, pengelolaan karyawan, pemasaran, dan menjaga kualitas pelayanan.
Pasal 3
Sistem Pembagian Keuntungan
- Keuntungan bersih usaha (setelah dikurangi biaya operasional dan biaya lainnya) akan dibagi dengan ketentuan:
- 55% (lima puluh lima persen) untuk PIHAK PERTAMA
- 45% (empat puluh lima persen) untuk PIHAK KEDUA
- Pembagian keuntungan dilakukan setiap akhir bulan berdasarkan laporan keuangan yang telah disepakati bersama.
Pasal 4
Laporan Keuangan
PIHAK KEDUA wajib membuat laporan keuangan bulanan yang transparan dan dapat diakses oleh PIHAK PERTAMA.
Pasal 5
Evaluasi Kerja Sama
Kerja sama ini akan dievaluasi setiap 6 (enam) bulan untuk meninjau kembali sistem pembagian keuntungan dan performa usaha.
Pasal 6
Penyelesaian Perselisihan
Jika terjadi perselisihan, para pihak sepakat untuk menyelesaikan secara musyawarah mufakat. Jika tidak tercapai, maka diselesaikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Republik Indonesia.
Pasal 7
Penutup
Surat perjanjian ini dibuat rangkap 2 (dua) dan ditandatangani di atas materai cukup, serta memiliki kekuatan hukum yang sama.
Bandung, 29 April 2025
PIHAK PERTAMA,
(Kang Mursi)
PIHAK KEDUA,
(Kang Dedi)
(Materai Rp 10.000 di salah satu tanda tangan)
Catatan:
- Untuk lebih kuat, tempelkan materai di salah satu tanda tangan.
- Bisa difotokopi untuk masing-masing pihak.
- Surat ini juga bisa dilampirkan fotokopi KTP kedua belah pihak.