Mengikuti Tren: Menyesuaikan Produk dengan Perubahan Zaman.

Dalam dunia bisnis, satu hal yang pasti adalah perubahan. Pasar terus bergerak, tren terus berganti, dan selera konsumen berubah dari waktu ke waktu. Kalau kamu ingin UMKM kamu tetap relevan dan dicari orang, kamu harus bisa menyesuaikan produk dengan tren yang sedang berkembang.
Bukan berarti ikut-ikutan tanpa arah, tapi cerdas membaca perubahan dan beradaptasi.
Berikut pembahasannya secara runtut:
A. Apa Itu Tren dalam Bisnis?
Tren adalah arah perkembangan atau kecenderungan yang sedang naik daun dan diikuti oleh banyak orang. Dalam bisnis, tren bisa muncul dalam:
- Produk (contoh: minuman boba, makanan pedas ekstrem, produk ramah lingkungan)
- Gaya kemasan (contoh: kemasan estetik, minimalis, atau eco-friendly)
- Cara promosi (contoh: jualan lewat TikTok live, konten storytelling)
- Gaya hidup konsumen (contoh: lebih peduli kesehatan, suka praktis, mendukung produk lokal)
B. Kenapa Tren Penting untuk UMKM?
- Menarik perhatian konsumen baru.
- Membuat produk kamu terasa “kekinian” dan relevan.
- Meningkatkan potensi viral.
- Memperkuat brand image sebagai bisnis yang up to date.
Kalau kamu tidak mengikuti tren, produkmu bisa dianggap “ketinggalan zaman” dan perlahan ditinggalkan.
C. Cara Menemukan dan Mengikuti Tren
1. Amati Media Sosial dan Platform Populer
- Perhatikan apa yang sedang ramai di TikTok, Instagram, Twitter, YouTube.
- Lihat produk-produk yang viral, gaya promosi yang dipakai, dan respon konsumen.
2. Ikuti Komunitas dan Forum Bisnis atau Konsumen
- Gabung di grup Facebook, Telegram, atau komunitas UMKM.
- Lihat diskusi tentang tren produk dan strategi terbaru.
3. Pantau Marketplace
- Cek produk terlaris di Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak.
- Amati harga, kemasan, dan deskripsi produk mereka.
4. Dengarkan Konsumen Langsung
- Tanyakan lewat polling di Instagram.
- Buka ruang diskusi: “Produk apa yang ingin kamu lihat dari kami?”
- Pelajari review dan testimoni pelanggan.
5. Ikuti Kalender Momen Spesial
- Misal: Ramadan, Hari Ibu, Musim Liburan, Tahun Baru, dst.
- Sesuaikan produk dan promosi dengan momen tersebut.
D. Cara Menyesuaikan Produk Tanpa Kehilangan Identitas
Kuncinya adalah: Beradaptasi tanpa kehilangan ciri khas.
Contoh:
- Kamu jual kopi? Buat varian rasa baru yang sedang hits (misal: kopi boba pandan).
- Kamu jual keripik? Bikin kemasan spesial edisi Hari Kemerdekaan.
- Kamu punya brand eco-friendly? Tambahkan QR code untuk cerita daur ulang kemasan.
Jangan asal ikut-ikutan. Pastikan modifikasi yang kamu lakukan tetap sesuai dengan nilai dan keunikan brand kamu.
E. Studi Kasus Sederhana (UMKM Nyata):
Contoh: Sebuah UMKM makanan ringan di Yogyakarta awalnya hanya menjual keripik singkong biasa.
Ketika tren “pedas ekstrem” naik daun, mereka menambah varian keripik singkong level 10 pedas setan dan viral.
Lalu saat Ramadan, mereka buat varian keripik manis kurma.
Tahun berikutnya, mereka rilis kemasan ulang tahun spesial dan bisa dikirim sebagai hadiah.
Hasilnya? Penjualan naik 3x lipat hanya karena peka terhadap tren.
F. Tips agar Tidak Ketinggalan Tren:
- Jadwalkan waktu setiap minggu untuk “observasi tren” di media sosial.
- Ikuti akun inspiratif di niche bisnismu (contoh: akun UMKM, akun kuliner, fashion, dsb).
- Jangan takut eksperimen, tapi uji dalam skala kecil dulu sebelum produksi besar.
Kesimpulan:
Mengikuti tren bukan berarti kehilangan jati diri, tapi justru menunjukkan bahwa kamu peduli pada konsumen dan siap tumbuh bersama mereka. Jadikan tren sebagai inspirasi untuk terus berinovasi, bukan sekadar ikut-ikutan.
Contoh: Kang Mursi dan Usaha Pakaian Olahraganya Mengikuti Tren
Profil Usaha:
Kang Mursi punya brand lokal bernama “MursiFit”, fokus jualan pakaian olahraga seperti kaos gym, celana jogger, dan jersey futsal.
1. Tren Gaya Hidup Sehat & Gym
Tren: Sejak pandemi, minat olahraga meningkat. Orang makin sering ke gym, lari, atau workout di rumah.
Langkah Kang Mursi:
- Buat seri “Home Workout Series”, yaitu kaos dan celana yang ringan, lentur, dan nyaman dipakai olahraga di rumah.
- Tambahkan tagline: “Nyaman Olahraga di Rumah? MursiFit Solusinya!”
2. Tren Warna Netral & Earth Tone
Tren: Banyak orang lebih suka warna kalem, netral seperti olive, beige, abu-abu soft.
Langkah Kang Mursi:
- Luncurkan edisi warna baru: Jogger EarthTone dengan pilihan warna coklat pasir dan hijau zaitun.
- Upload foto produk dengan konsep alam (rumput, batu alam, hutan kota).
3. Tren Pakaian Multifungsi (Gym to Hangout Look)
Tren: Konsumen suka baju olahraga yang tetap stylish untuk dipakai nongkrong atau jalan.
Langkah Kang Mursi:
- Desain kaos dengan potongan slim fit dan desain minimalis.
- Tambahkan label: “Street Sportwear – Olahraga atau Santai, Tetap Stylish.”
4. Tren Konten TikTok & Influencer Lokal
Tren: Konten promosi lewat video workout, review singkat, dan tantangan jadi viral.
Langkah Kang Mursi:
- Ajak 2 trainer lokal di gym terdekat jadi micro-influencer: dikasih outfit, lalu review jujur sambil workout.
- Bikin konten TikTok “Mix & Match Outfit MursiFit Buat Cowok Aktif” – konten ini viral!
5. Tren Ramah Lingkungan
Tren: Konsumen mulai peduli lingkungan.
Langkah Kang Mursi:
- Mulai gunakan kantong kemasan dari bahan daur ulang.
- Tulis di label: “Kemasan ini 100% bisa didaur ulang – karena bumi butuh napas.”
Hasilnya?
- Dalam 6 bulan, penjualan naik 2,5 kali lipat.
- Follower Instagram naik dari 1.300 ke 6.000+ karena konten dan kolaborasi.
- Banyak pesanan dari luar kota karena produknya dianggap “kekinian tapi lokal”.
Kesimpulan dari Contoh Kang Mursi:
Dengan memahami tren dan menerapkannya sesuai dengan brand, Kang Mursi bisa:
- Tetap relevan
- Dilirik generasi muda
- Meningkatkan penjualan
- Memperkuat citra brand lokal berkualitas.
Kapan waktunya saya mengikuti tren?
Waktu yang tepat untuk mengikuti tren itu tergantung pada kondisi bisnismu dan jenis trennya. Tapi secara umum, berikut panduan praktisnya:
1. Saat Tren Masih di Fase Awal atau Sedang Naik
Ini waktu terbaik, karena kamu bisa jadi pelopor di pasar. Caranya:
- Amati tren yang baru muncul di media sosial, tapi belum banyak pesaing yang ikut.
- Kalau kamu bisa masuk lebih dulu, kamu punya peluang besar untuk jadi top of mind.
Contoh: Saat tren minuman dalgona baru muncul, yang jual duluan langsung diserbu pembeli.
2. Saat Produk atau Penjualan Mulai Lesu
Kalau penjualan mulai stagnan atau turun, mengikuti tren bisa jadi cara menyegarkan kembali bisnis.
Tapi tetap hati-hati, pastikan tren itu relevan dengan produkmu dan bisa dieksekusi tanpa merusak kualitas.
3. Menjelang Momen Khusus (Musiman atau Event Besar)
Waktu yang pas untuk ikut tren tematik, misalnya:
- Ramadan & Lebaran (produk hampers, makanan khas, promosi bundling)
- Tahun Baru, Natal, Hari Ibu, 17 Agustus, Valentine, dll
- Musim liburan sekolah, musim hujan, musim durian, dsb
Tren musiman ini bagus untuk menaikkan penjualan dalam waktu singkat.
4. Ketika Konsumen Kamu Mulai Membicarakannya
Kalau mulai banyak pelanggan atau pengikut di media sosial yang menyinggung suatu tren, ini sinyal kuat kamu harus mempertimbangkannya.
Kapan Sebaiknya Tidak Ikut Tren?
- Kalau tren itu bertolak belakang dengan nilai bisnismu.
- Kalau kamu belum siap dari sisi modal atau SDM.
- Kalau cuma ikut-ikutan tapi tidak tahu tujuannya.
Jadi, intinya:
Ikut tren saat kamu bisa jadi lebih relevan, lebih cepat, atau saat butuh inovasi—tapi tetap dengan arah dan strategi yang jelas.