Naik Gelombang Viral: Strategi Cerdas Membuat Konten yang Ikut Tren Tapi Tetap Otentik (Trendjacking).
Apa itu Trendjacking?
Trendjacking adalah strategi menunggangi tren yang sedang viral atau topik yang sedang hangat dibicarakan untuk membuat konten yang relevan, segar, dan mudah menarik perhatian.
Contoh sederhananya:
- Pas film Barbie rilis, banyak brand ikut membuat konten dengan nuansa pink dan gaya Barbie.
- Saat ada meme viral, banyak akun bisnis yang ikut “bermain” dengan versi mereka sendiri.
Kenapa Trendjacking Efektif?
- Cepat menarik perhatian: Orang sudah familiar dengan tren tersebut.
- Tingkat share tinggi: Karena kontennya relatable dan terkini.
- Mendekatkan brand dengan audiens: Brand terlihat up-to-date dan relevan.
- Cocok untuk sosial media: Platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok sangat mendukung konten real-time.
Kapan Harus Gunakan Trendjacking?
- Saat tren tersebut relevan dengan brand kamu.
- Ketika kamu bisa memberikan twist yang kreatif dan orisinal.
- Kalau kamu bisa bergerak cepat — tren biasanya hanya bertahan beberapa hari.
Tips Membuat Konten Trendjacking yang Efektif
- Pantau tren secara aktif
Gunakan tools seperti:- Google Trends
- Twitter trending topics
- TikTok FYP
- Instagram Reels & Explore
- Grup komunitas
- Pastikan tren relevan dengan audiens & brand kamu
Jangan asal ikut-ikutan. Tanyakan dulu:- Apakah audiens kamu akan paham atau peduli dengan tren ini?
- Bisa nggak dikaitkan dengan produk, layanan, atau nilai brand kamu?
- Berikan sudut pandang unik
Jangan hanya meniru, remix tren itu sesuai karakter brand kamu. - Gunakan visual yang catchy dan format kekinian
Reels, meme, carousel, atau tweet-style post — sesuaikan dengan platform. - Jangan telat!
Momentum adalah segalanya. Kalau tren sudah lewat, lebih baik skip.
Contoh Nyata
- GoFood: Saat “Citayam Fashion Week” viral, mereka posting “GoFood-an dengan gaya Citayam? Bisa banget!” sambil menampilkan makanan dengan fashion show ala SCBD.
- Tokopedia: Saat lagu viral TikTok berjudul “Sial” booming, mereka buat parodi iklan lucu dengan narasi “Sial… barang impian sold out lagi!”
Kesalahan yang Harus Dihindari
- Memaksa masuk ke tren yang nggak nyambung (jadinya malah cringe).
- Meniru tanpa kreativitas.
- Menanggapi isu sensitif atau tragedi dengan gaya bercanda (bisa backfire parah).
- Terlambat ikut tren — jadi kelihatan ketinggalan zaman.
Penutup
Trendjacking adalah cara cepat untuk mendapat exposure, tapi harus dilakukan dengan hati-hati dan cerdas. Tujuannya bukan cuma jadi viral, tapi tetap menyampaikan pesan brand dengan cara yang relevan dan menyenangkan.
Kalau kamu konsisten, audiens bisa melihat brand kamu sebagai yang selalu nyambung, lucu, dan relate sama mereka.
Kita kreasikan contoh trendjacking dengan nama Kang Mursi, pemilik brand pakaian olahraga. Kita anggap brand-nya menjual baju gym, training set, dan aksesoris fitness lokal.
Contoh Trendjacking: Kang Mursi & Trend “Lari dari Kenyataan”
Tren yang Diambil
Misalnya di media sosial sedang viral meme:
“Gue sih lari dari kenyataan.”
Banyak digunakan orang buat bercanda soal hidup, sambil pakai filter lari atau video orang jogging.
Konten Trendjacking-nya Kang Mursi
Caption:
“Kalau Kang Mursi mah, lari dari kenyataan tetap pakai training set yang nyaman!”
#LariDariKenyataan #KangMursiStyle #SportwearLokal
Visual:
Video pendek TikTok/IG Reels — Kang Mursi sedang jogging pagi-pagi, pakai koleksi baru. Di layar ada teks:
“Lari dari kenyataan… Tapi tetap kece dong!“
Twist-nya:
- Pakai tone yang lucu & relate.
- Tetap mempromosikan produk secara soft-selling.
- Menyatu dengan tren, tapi tetap ada “brand voice”-nya Kang Mursi.
Kenapa Ini Efektif
- Tren lucu & relatable (banyak orang suka konten galau-galau receh).
- Audiens merasa: “Wah, brand ini nyambung banget sama keseharian gue.”
- Promosi produk dilakukan dengan cara ringan dan tidak maksa.