IHT atau In-House Training adalah pelatihan internal yang diselenggarakan oleh sekolah untuk meningkatkan kemampuan guru. Biasanya dilakukan di lingkungan sekolah sendiri, dengan menghadirkan narasumber dari luar (misalnya pengawas, praktisi, guru penggerak), atau bahkan difasilitasi oleh guru internal yang kompeten.
Nah, dalam konteks Kurikulum Merdeka, IHT ini sangat penting karena kurikulum ini membawa banyak perubahan—baik dalam cara merancang pembelajaran, menilai hasil belajar, maupun menyikapi kebutuhan siswa yang beragam.

Program In-House Training (IHT) dalam Kurikulum Merdeka.
A. Tujuan Utama.
Tujuan utama IHT Kurikulum Merdeka adalah:
- Membantu guru memahami konsep utama Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran berdiferensiasi, profil pelajar Pancasila, dan asesmen formatif.
- Memberi ruang praktik kepada guru dalam menyusun perangkat ajar yang sesuai dengan semangat merdeka belajar.
- Mempersiapkan guru menghadapi perubahan paradigma dari “mengajar semua siswa dengan cara yang sama” menjadi “mengajar sesuai kebutuhan siswa”.
B. Kegiatan yang Dilakukan.
Dalam pelaksanaan IHT, kegiatan biasanya meliputi:
- Pemaparan Materi
Narasumber menyampaikan materi dasar tentang Kurikulum Merdeka: filosofi, struktur kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), serta peran guru dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa. - Studi Kasus atau Diskusi Kelompok
Guru diajak berdiskusi dan menganalisis contoh RPP atau modul ajar. Bisa juga membahas praktik baik dari guru lain. - Praktik Menyusun Modul Ajar
Guru diminta menyusun perangkat ajar seperti alur tujuan pembelajaran (ATP), modul ajar, dan asesmen diagnostik. - Simulasi dan Presentasi
Beberapa guru mempresentasikan hasil penyusunan perangkat ajar dan mendapatkan umpan balik dari rekan-rekan guru lainnya.
C. Waktu Pelaksanaan.
Idealnya, IHT Kurikulum Merdeka dilaksanakan di awal tahun ajaran, sekitar bulan Juli, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Durasi bisa disesuaikan, tapi umumnya 2–3 hari sudah cukup padat dan bermanfaat.
D. Evaluasi Kegiatan.
Agar kegiatan ini berdampak, sebaiknya disertai dengan:
- Post-test singkat untuk mengukur pemahaman guru setelah pelatihan.
- Refleksi tertulis dari guru tentang hal baru yang mereka dapatkan.
- Penugasan membuat modul ajar atau RPP berdiferensiasi sebagai produk nyata.
- Tindak lanjut, misalnya supervisi kelas untuk melihat implementasi hasil pelatihan.
Penutup
IHT Kurikulum Merdeka bukan sekadar pelatihan formal, tapi bagian dari proses berkelanjutan agar guru tidak hanya paham kurikulum, tapi juga siap menerapkannya dengan fleksibel dan berpihak pada siswa. Dengan IHT yang tepat, guru merasa lebih percaya diri, dan siswa mendapat pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Pembahasan Penting Lainnya.
Strategi Menyusun Jadwal dan Rundown IHT yang Efektif.
Menyusun jadwal IHT (In-House Training) itu tidak bisa asal penuh dari pagi sampai sore. Justru tantangannya adalah bagaimana kegiatan tetap penuh makna, tidak bikin lelah, dan memberi ruang praktik serta refleksi bagi para guru.
Berikut ini beberapa strategi dan tips yang bisa kamu pertimbangkan saat menyusun jadwal atau rundown IHT di sekolah.
1. Pertimbangkan Jam Efektif Guru
Guru adalah praktisi lapangan. Kalau IHT terlalu panjang atau dimulai terlalu pagi, bisa jadi malah tidak efektif. Idealnya:
- Mulai: pukul 08.00 – 08.30
- Selesai: maksimal pukul 14.30 atau 15.00
- Sisakan waktu untuk pulang, mengurus keluarga, atau refleksi pribadi.
✨ Lebih baik IHT singkat tapi fokus, daripada panjang tapi “meluber” ke mana-mana.
2. Selalu Sisipkan Sesi Ice Breaking atau Energizer
Setelah dua jam menyimak materi, energi pasti menurun. Sisipkan sesi ice breaking ringan seperti:
- Game kelompok
- Refleksi bersama
- Quiz santai
Waktu ideal: 5–10 menit setiap 2 jam.
3. Berikan Ruang untuk Praktik Langsung
IHT bukan seminar satu arah. Guru perlu learning by doing. Misalnya saat materi ATP atau modul ajar, beri waktu mereka untuk:
- Menyusun ATP-nya sendiri
- Diskusi kelompok kecil
- Presentasi hasil kerja
Waktu praktik ideal: setidaknya 30–40% dari total durasi kegiatan.
4. Siapkan Waktu Istirahat yang Cukup
Terlalu memadatkan jadwal hanya akan membuat guru jenuh. Jadwal ideal:
- Rehat pagi: 09.45 – 10.00 (15 menit)
- Istirahat siang/makan: 12.00 – 13.00 (60 menit)
Kalau kegiatan dua hari, sebaiknya hari ke-2 tidak sepadat hari pertama, agar guru tetap semangat.
5. Akhiri dengan Sesi Refleksi atau Komitmen
Setelah materi disampaikan dan praktik dilakukan, jangan langsung bubar. Sisakan waktu 20–30 menit untuk:
- Menuliskan hal yang paling berkesan
- Menyampaikan satu hal yang akan diterapkan dalam waktu dekat
- Mengisi evaluasi kegiatan (form refleksi atau Google Form)
Ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan memetakan keberlanjutan.
6. Contoh Rundown Sederhana (1 Hari IHT)
| Waktu | Kegiatan |
|---|---|
| 07.30–08.00 | Registrasi dan pembukaan |
| 08.00–09.30 | Sesi 1: Pengenalan Kurikulum Merdeka |
| 09.30–09.45 | Ice Breaking |
| 09.45–10.30 | Sesi 2: Pembelajaran Berdiferensiasi |
| 10.30–12.00 | Sesi 3: Praktik Menyusun ATP & Modul Ajar |
| 12.00–13.00 | ISOMA |
| 13.00–14.00 | Presentasi Hasil dan Diskusi Kelompok |
| 14.00–14.30 | Refleksi, Evaluasi & Penutup |
Tinggal disesuaikan dengan jumlah hari dan topik yang akan dibahas.
Tips Tambahan
- Koordinasikan dengan guru: tanyakan jam paling nyaman.
- Sediakan snack dan air minum: jangan dianggap sepele, ini menjaga mood.
- Gunakan metode variatif: jangan hanya ceramah, tapi kombinasikan dengan diskusi, tanya jawab, praktik, dan studi kasus.
Contoh Materi IHT Kurikulum Merdeka Sesuai Jenjang.
Salah satu tantangan saat menyusun IHT Kurikulum Merdeka adalah memastikan materinya tepat sasaran. Karena kebutuhan guru SD tentu berbeda dengan guru SMP maupun SMA.
Agar pelatihan lebih bermakna dan aplikatif, berikut ini materi IHT yang direkomendasikan per jenjang pendidikan:
Untuk Guru SD (Sekolah Dasar)
Fokus pembelajaran di SD adalah fondasi berpikir, literasi, numerasi, dan karakter siswa.
Materi yang bisa dijadikan topik IHT:
- Memahami Capaian Pembelajaran (CP) di SD
Guru perlu tahu CP tiap fase (A = kelas 1–2, B = kelas 3–4, C = kelas 5–6). Ini jadi dasar menyusun tujuan pembelajaran dan modul ajar. - Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang Sederhana dan Kontekstual
ATP di SD tidak harus rumit. Materi IHT bisa bantu guru menyusun ATP yang sesuai kemampuan awal siswa. - Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas Awal
Guru SD perlu dilatih bagaimana menyikapi perbedaan kemampuan baca, tulis, dan matematika siswa, terutama di kelas bawah. - Asesmen Diagnostik dan Format Pembelajaran Remedial di SD
Guru dilatih membaca hasil asesmen dan menyesuaikan pembelajaran berdasarkan data.
Untuk Guru SMP
Di jenjang SMP, tantangannya lebih kompleks: siswa mulai remaja, lebih beragam, dan proyek penguatan karakter mulai masuk ke ranah yang lebih luas.
Materi IHT yang cocok:
- Mengembangkan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
Guru dilatih merancang proyek lintas mata pelajaran. Materinya bisa berupa contoh tema, skenario proyek, hingga cara menilai proyek. - Penyusunan Modul Ajar Sesuai CP dan ATP Fase D
Fase D meliputi kelas 7–9. Guru perlu belajar menyusun modul ajar yang fleksibel dan kontekstual. - Penggunaan Media Digital dalam Pembelajaran SMP
Guru dilatih membuat media interaktif seperti kuis digital, video pembelajaran, atau animasi. - Strategi Pembelajaran Inklusif dan Berdiferensiasi
Karena variasi siswa di SMP makin tinggi, guru perlu strategi praktis untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar.
Untuk Guru SMA/SMK
Guru SMA berhadapan dengan siswa yang akan menghadapi perguruan tinggi atau dunia kerja. Maka pembelajaran perlu lebih mandiri, eksploratif, dan relevan.
Materi IHT yang sesuai:
- Penyusunan Modul Ajar Berbasis Proyek atau Studi Kasus.
Guru SMA bisa diajak menyusun modul ajar berbasis masalah nyata, riset mini, atau proyek jangka pendek. - Membuat ATP dan Modul Ajar Sesuai Fase E.
Fase E (kelas 10–12) menuntut penguatan kompetensi tinggi dan pemikiran kritis. Materi IHT bisa fokus ke penyusunan modul ajar yang melatih HOTS. - Strategi Pembelajaran Mandiri dan Reflektif untuk Siswa SMA.
Siswa SMA perlu dibimbing belajar secara mandiri. Guru bisa diberi materi tentang coaching belajar dan refleksi harian. - Integrasi P5 dengan Pembelajaran di Kelas.
Tidak semua proyek P5 dilakukan terpisah. Di SMA, bisa juga diintegrasikan dalam mata pelajaran tertentu. Guru perlu belajar bagaimana cara mengaitkannya.
Tips Praktis:
- Setiap materi IHT sebaiknya ada sesi praktiknya. Jangan cuma teori.
- Bila memungkinkan, buat sesi per jenjang atau per fase agar diskusinya lebih fokus.
- Sertakan contoh modul, template ATP, dan contoh proyek agar guru punya gambaran nyata.
Strategi Menindaklanjuti Hasil IHT agar Tidak Sekadar Seremonial.
Pelatihan guru seperti In-House Training (IHT) itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pelatihan selesai.
Faktanya, banyak IHT yang begitu selesai… ya sudah selesai. Tanpa ada dampak nyata di kelas. Guru kembali ke rutinitas lama, semangat pelatihan menguap perlahan, dan inovasi yang sempat disusun hanya jadi tumpukan dokumen di laci.
Agar IHT benar-benar bermakna dan berdampak, kepala sekolah dan tim manajemen perlu menyiapkan strategi tindak lanjut yang konkret. Berikut adalah tiga strategi yang bisa dilakukan:
1. Supervisi Kelas Pasca-IHT
Apa itu?
Supervisi ini bukan untuk menghakimi, tapi sebagai bentuk pendampingan setelah pelatihan. Tujuannya melihat bagaimana guru menerapkan hal-hal yang sudah dipelajari dalam IHT, misalnya modul ajar berdiferensiasi, asesmen formatif, atau aktivitas proyek P5.
Langkah-Langkahnya:
- Kepala sekolah atau guru senior membuat jadwal kunjungan kelas.
- Observasi dilakukan dengan pendekatan ramah, fokus pada praktik yang dibahas saat IHT.
- Setelah itu, adakan diskusi ringan (coaching) untuk merefleksikan proses pembelajaran.
Manfaatnya:
Guru merasa didampingi, bukan diawasi. Sekaligus jadi ruang evaluasi bersama apakah pelatihan benar-benar bisa diterapkan.
2. Forum Komunitas Belajar sebagai Tindak Lanjut
Apa itu?
Setelah IHT, jangan biarkan guru berjalan sendiri. Bentuklah komunitas belajar (KBG) yang rutin bertemu, misalnya sebulan sekali, untuk saling berbagi pengalaman, kesulitan, dan kemajuan.
Contoh Aktivitas Forum:
- Sharing “apa yang berhasil dan belum berhasil” dalam menerapkan materi IHT.
- Menganalisis kembali RPP atau modul ajar yang sudah dicoba.
- Mendiskusikan studi kasus pembelajaran nyata dari guru di sekolah tersebut.
Tips:
Jangan terlalu formal. Bisa dibuat santai, sambil ngopi atau makan kecil, agar suasananya cair tapi tetap fokus.
Manfaatnya:
Membangun budaya saling belajar dan reflektif di antara guru. Ini jauh lebih efektif dibanding pelatihan satu arah.
3. Refleksi Guru Setelah Menerapkan Hasil Pelatihan
Apa itu?
Setiap guru diminta untuk menulis refleksi singkat atau mengisi formulir refleksi setelah mencoba menerapkan hasil pelatihan di kelas.
Contoh pertanyaan refleksi:
- Apa yang sudah saya terapkan dari pelatihan?
- Apa tantangan yang saya hadapi?
- Apa yang ingin saya perbaiki di pembelajaran berikutnya?
Kapan dilakukan?
Biasanya 1–2 minggu setelah IHT, dan bisa diulang sebulan kemudian untuk melihat progresnya.
Manfaatnya:
Guru dilatih untuk berpikir reflektif, bukan hanya “mengikuti pelatihan lalu lupa.” Kepala sekolah juga bisa memetakan mana guru yang butuh pendampingan lebih lanjut.
Penutup
Pelatihan yang baik bukan diukur dari banyaknya slide atau sertifikat, tapi sejauh mana guru berubah dalam praktiknya. Dan perubahan itu butuh proses, pendampingan, dan ruang untuk saling menguatkan.
Dengan strategi sederhana seperti supervisi ringan, forum diskusi santai, dan refleksi rutin, pelatihan yang tadinya hanya “acara” bisa menjadi langkah nyata menuju perbaikan pembelajaran di kelas.
Tantangan dan Solusi dalam Menyelenggarakan IHT di Sekolah.
In-House Training (IHT) memang sangat bermanfaat untuk pengembangan profesional guru. Tapi di lapangan, kita tahu bahwa pelaksanaannya tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak tantangan nyata yang harus dihadapi.
Berikut beberapa tantangan umum—dan bagaimana cara mengatasinya secara realistis:
1. Waktu Guru yang Padat
Tantangannya:
Guru bukan hanya mengajar. Mereka juga sibuk dengan tugas administrasi, pembimbingan, hingga kegiatan ekstrakurikuler. Jadwal yang penuh sering membuat mereka merasa terbebani saat ada IHT, apalagi jika diadakan di luar jam kerja.
Solusinya:
- Jadwalkan IHT di waktu yang “ringan”, misalnya awal tahun ajaran (saat belum banyak kegiatan belajar), atau saat hari efektif tapi ringan (seperti Sabtu).
- Gunakan format pelatihan singkat tapi bermakna, misalnya mini training selama 2 jam, tapi dilakukan berkala.
- Lakukan rotasi kegiatan, sehingga guru bisa bergantian mengikuti pelatihan sambil tetap mengajar.
- Bila memungkinkan, gunakan platform digital untuk pelatihan mandiri yang bisa diakses fleksibel.
2. Motivasi Guru yang Bervariasi
Tantangannya:
Tidak semua guru punya semangat belajar yang sama. Ada yang antusias, tapi ada juga yang pasif atau merasa ini hanya formalitas. Kadang ada guru yang merasa “sudah senior” dan tidak butuh pelatihan lagi.
Solusinya:
- Libatkan guru dalam perencanaan isi IHT. Tanyakan kebutuhan mereka, buat topik yang relevan dengan masalah nyata di kelas.
- Tunjukkan manfaat langsung dari pelatihan: misalnya setelah belajar Canva, guru langsung bisa bikin media ajar yang keren dan bikin siswa semangat.
- Gunakan pendekatan yang tidak menggurui. Lebih ke “belajar bersama” daripada “dilatih”.
- Dorong guru berbagi praktik baik mereka. Rasa dihargai bisa membangkitkan semangat belajar yang lain.
3. Fasilitas Sekolah yang Terbatas
Tantangannya:
Tidak semua sekolah punya LCD proyektor, ruang pelatihan yang nyaman, atau koneksi internet yang lancar. Kadang pelatihan terganggu hanya karena masalah teknis seperti listrik padam atau laptop kurang.
Solusinya:
- Gunakan fasilitas yang ada secara optimal. Misalnya, jika tidak ada proyektor, gunakan papan tulis, fotokopi handout, atau diskusi kelompok kecil.
- Lakukan kolaborasi antar sekolah: bisa pinjam ruangan, peralatan, atau bahkan gabung pelatihan lintas sekolah.
- Ajak guru membuat suasana pelatihan yang fleksibel—bisa di ruang kelas, ruang guru, atau bahkan teras sekolah jika nyaman.
- Untuk pelatihan berbasis teknologi, siapkan materi offline agar guru tetap bisa belajar tanpa tergantung internet.
Kesimpulan Sederhana
Tantangan dalam menyelenggarakan IHT memang nyata, tapi bukan alasan untuk berhenti. Kuncinya ada pada:
- Perencanaan yang fleksibel
- Komunikasi terbuka dengan guru
- Membangun budaya belajar yang menyenangkan
Yang paling penting: sesuaikan dengan kondisi sekolah, jangan memaksakan idealisme yang malah membuat guru lelah. IHT tidak harus mewah—yang penting bermakna dan berdampak.
Contoh Laporan Kegiatan IHT.
LAPORAN KEGIATAN
In-House Training (IHT) Kurikulum Merdeka
SD Negeri Harapan Bangsa
Tahun Pelajaran 2024/2025
1. Latar Belakang
Dalam rangka mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan, diperlukan peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam merancang serta melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip kurikulum tersebut.
Untuk itu, SD Negeri Harapan Bangsa menyelenggarakan kegiatan In-House Training (IHT) sebagai salah satu bentuk pengembangan profesionalisme guru. Kegiatan ini dilaksanakan secara internal di sekolah dengan menghadirkan narasumber dari luar serta melibatkan seluruh guru sebagai peserta aktif.
2. Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan dari pelaksanaan IHT ini adalah:
- Memberikan pemahaman menyeluruh kepada guru tentang konsep dasar Kurikulum Merdeka.
- Membekali guru dengan keterampilan menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Modul Ajar, dan melakukan asesmen diagnostik.
- Mendorong guru agar mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
- Menumbuhkan budaya refleksi dan kolaborasi antar guru dalam mengembangkan pembelajaran yang berpihak pada siswa.
3. Jalannya Kegiatan
Hari / Tanggal: Kamis–Jumat, 11–12 Juli 2024
Waktu: Pukul 08.00 – 15.00 WIB
Tempat: Aula SD Negeri Harapan Bangsa
Narasumber:
- Ibu Dwi Rahayu, M.Pd (Pengawas SD Kecamatan)
- Tim Guru Penggerak Kabupaten
Peserta:
Seluruh guru SD Negeri Harapan Bangsa (15 orang)
Rangkaian Kegiatan:
Hari Pertama:
- Pembukaan oleh Kepala Sekolah
- Pemaparan materi Kurikulum Merdeka
- Diskusi kelompok: Analisis Capaian Pembelajaran dan Penyusunan ATP
- Praktik membuat ATP (per jenjang kelas)
Hari Kedua:
- Penyusunan modul ajar dan asesmen formatif
- Simulasi pembelajaran berdiferensiasi
- Presentasi hasil kelompok
- Refleksi dan rencana tindak lanjut
4. Hasil Evaluasi
- Dari hasil pre-test dan post-test yang diberikan, terdapat peningkatan rata-rata pemahaman peserta dari 60% menjadi 85%.
- Guru menunjukkan antusiasme tinggi, terutama dalam praktik penyusunan modul ajar.
- Beberapa guru masih memerlukan pendampingan dalam menyusun asesmen diagnostik, dan ini akan menjadi fokus kegiatan komunitas belajar berikutnya.
- Seluruh guru menyatakan kesiapannya untuk mencoba menerapkan hasil pelatihan di kelas masing-masing mulai awal tahun ajaran.
5. Dokumentasi Kegiatan
A. Foto Kegiatan
(Lampirkan 3–5 foto kegiatan, misalnya saat narasumber menyampaikan materi, diskusi kelompok, praktik penyusunan modul ajar, dan sesi presentasi)
B. Daftar Hadir Peserta
(Lampirkan format daftar hadir yang ditandatangani peserta dan narasumber)
C. Materi Narasumber
(Lampirkan softcopy jika ada, atau ringkasan materi)
6. Penutup
Kegiatan IHT Kurikulum Merdeka ini menjadi langkah awal dalam menguatkan kesiapan guru menghadapi perubahan dalam dunia pendidikan. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi juga terus dilanjutkan dengan praktik nyata di kelas serta pendampingan secara berkelanjutan.
Demikian laporan ini disusun sebagai dokumentasi dan bentuk pertanggungjawaban kegiatan.
Ciputat, 15 Juli 2024
Kepala Sekolah,
SD Negeri Harapan Bangsa
(stempel dan tanda tangan)
Cukup sekian dan terimakasih.










