Kitab Safinah ! 6 Fardhu Wudhu yang Wajib diketahui

Alhamdulillah, kemarin kita sudah membahas kaitan hal-hal yang dapat membatalkan wudhu. Sekarang kita lanjutkan tentang fardhunya yang keterangannya saya kutip dari berbagai kitab fiqih terpercaya dan terpopuler di kalangan pondok pesantren, seperti kitab Safinah, Kasifatussaja, Fathul Qorib, Khasiyatul Baijuri, dan lain sebagainya.

intro….!

Wudhu dinamakan sebagai kegiatan bersuci yang mensucikan dan bisa menghilangkan hadas. Menurut pendapat yang mu’tamad, wudhu termasuk ibadah yang sudah diketahui maknanya, atau sudah diketahui hikmah disyariatkannya, yaitu karena yang namanya ibadah shalat adalah bermunajat kepada Allah, maka kita dituntut berwudhu (bersuci) terlebih dahulu ketika hendak melaksanakan sholat.

Dalam praktik wudhu terdapat empat anggota tubuh yang dikhususkan, yakni kepala, kedua kaki, kedua tangan, dan mulut, karena keempat anggota tubuh tersebut adalah tempatnya kita melakukan kesalahan, atau karena nabi Adam berjalan menuju ke pohon buah khuldi menggunakan kedua kakinya, mengambil menggunakan kedua tangannya, memakan menggunakan mulutnya, dan kepalanya menyentuh daunnya.

Adapun perkara yang mengharuskan kita berwudhu adalah karena kita memiliki hadas serta akan melakukan sholat, atau ibadah lainnya yang diwajibkan wudhu terlebih dahulu.

فُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ اَلْأَوَّلُ النِّيَّةُ، الثَّانِي غَسْلُ الْوَجْهِ، الثَّالِثُ غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، الرَّابِعُ مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ، الخَامِسُ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ، السَّادِسُ التَّرْتِيْبُ

dalam Kitab Safinah dijelaskan, Fardhu Wudhu Jumlahnya ada 6

  1. Niat Wudhu.
  2. Membasuh Wajah.
  3. Membasuh Kedua Tangan Sampai Sikut.
  4. Mengusap Sesuatu dari Kepala.
  5. Membasuh Kedua Kaki Sampai Kedua Mata Kaki.
  6. Tertib.

Pembahasan.

1. Niat Melakukan Wudhu.

Yang pertama adalah niat, karena hal ini berdasarkan hadits yang berbunyi

انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى

Adapun sahnya amal-amal tergantung pada niatnya. Dan seseorang hanya memperoleh apa-apa yang dia niatkan.

Berkaitan hadits di atas, seh Al-Fasniyyu menjelaskan:

Setiap tuntutan hukum syariat sebangsa badan, yakni ucapan dan perbuatan-perbuatan orang mukmin sangat diperhitungkan dengan adanya niat. Semua orang pastinya akan dibalas sesuai dengan niatnya. Ketika niatnya baik, maka balasannya pun adalah kebaikan, dan ketika niatnya buruk, tentu pembalasan yang dia dapatkan adalah keburukan.

Niatnya wudhu terletak ketika pertama kali kita membasuh sebagian wajah. Niatnya boleh dimulai dari bagian atas, tengah, atau bagian bawahnya wajah.

Adapun diwajibkannya menyertakan niat saat pertama kali kita membasuh wajah adalah supaya basuhan wajahnya dianggap sah. Bukan semata-mata karena niatnya sah.

Oleh karena itu, ketika sedang membasuh wajah pada basuhan yang pertama kita harus niat wudhu. Jadi apabila niatnya setelah membasuh wajah, maka kita wajib mengulangi basuhannya.

Tata cara niat wudhu.

Apabila orang yang berwudhu adalah orang yang sehat, yakni anggota wudhunya tidak ada yang sakit, maka boleh memilih salah satu dari ketiga niat berikut;

  1. Niat menghilangkan hadas, niat bersuci dari hadas, atau niat bersuci karena akan melakukan sholat.
  2. Niat agar diperbolehkan melakukan sholat, atau ibadah lainnya yang ketika dilakukan harus berwudhu terlebih dahulu, seperti memegang mushaf Al-Qur’an.
  3. Niat Fardhu Wudhu, Niat Melakukan Wudhu, atau hanya niat wudhu meskipun yang niat adalah anak kecil, dan mujaddid (orang yang sudah berwudhu dan belum batal, tapi wudhu lagi).

Pembahasan…!

Seseorang yang memiliki dhorurot, seperti orang yang punya penyakit beser atau sejenisnya, maka tidak cukup baginya jika berwudhu niat untuk menghilangkan hadas, karena wudhunya orang yang punya penyakit beser, adalah wudhu supaya boleh melakukan ibadah sholat atau lainnya. Bukan wudhu yang menghilangkan hadas.

Berikut ini contoh niat wudhu yang tidak cukup bagi orang yang punya penyakit beser:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat wudhu karena menghilangkan hadas kecil karena Allah Ta’ala.”

Dan berikut ini contoh niat wudhu yang benar bagi orang yang punya penyakit beser

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat wudhu karena kewenangan melakukan sholat karena Allah Ta’ala.”

Dan berikut ini niat wudhu yang biasa kita lakukan setiap harinya:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat wudhu karena menghilangkan hadas kecil, fardhu (wajib) karena Allah Ta’ala.”

2. Membasuh Wajah.

Di dalam kitab Fathul Qorib menggunakan redaksi Ghoslu jami’il wajhi, yang artinya membasuh seluruh wajah. Batasan wajah yang wajib dibasuh ketika diukur dari arah atas ke bawah, adalah dimulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala secara umum, hingga bagian paling bawahnya dua tulang dagu.

Yang dimaksud dua tulang dagu adalah rahang atau tempat tumbuhnya gigi-gigi bawah, dan bagian depannya menyatu dengan dagu atau janggut. Sedangkan bagian belakang kedua tulang tersebut bertemu dengan telinga.

Adapun wajah yang wajib dibasuh ketika diukur dari samping, adalah wilayah diantara kedua telinga.

Pembahasan..

Ketika ada rambut yang tumbuh di bagian wajah, baik itu rambutnya tipis ataupun lebat, maka airnya harus membasahi rambut tersebut beserta kulit yang terletak di bawahnya.

Adapun pria yang berjenggot tebal, sekiranya orang yang berbicara dengannya tidak melihat kulit di bawahnya jenggot, maka membasuh bagian luarnya jenggot sudahlah cukup.

Tapi ketika jenggotnya tipis, sekiranya orang yang berbicara dengannya bisa melihat kulit di bawahnya jenggot, maka harus membasuh jenggot tersebut sampai kulit di bawahnya juga ikut basah.

Dikecualikan dari pembahasan di atas adalah wanita dan khunsa (seseorang yang punya dua kelamin). Jadi ketika wanita dan khunsa memiliki jenggot dan godek, maka wajib dibasuh hingga membasahi kulit di bawahnya, karena tumbuhnya jenggot dan godek jarang dialami oleh wanita dan khunsa. Dan hukumnya sunnah bagi wanita yang memiliki jenggot dan godek untuk menghilangkannya.

Di dalam kitab Kasifatussaja terdapat keterangan yang disampaikan oleh Sayyid Al-Mirghoni:

“Wajib membasuh anggota yang masih bersambung dengan sisi wajah, karena sesuatu yang mana perkara wajib tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut dihukumi wajib.”

Lebih jelasnya silahkan perhatikan gambar berikut supaya kita tahu batasan wajah yang wajib dibasuh:

3. Membasuh Kedua Tangan Sampai Kedua Sikut.

Tapi semisal orangnya tidak memiliki sikut, maka cukup mengira-ngirakan letaknya sikut pada umumnya.

Penjelasan tentang wajibnya membasuh kedua tangan sampai kedua sikut adalah bagi orang yang memiliki sikut meskipun letaknya bukan pada tempat biasanya. Oleh sebab itu, seumpama ada orang memiliki sikut yang letaknya menempel dengan kedua pundak, maka dia wajib membasuh kedua tangannya sampai sikut tersebut.

Hal ini berdasarkan penjelasan yang ditulis seh Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, Kasifatussaja.

Pembahasan..!

Apabila ada orang yang sebagian tangannya terpotong, maka yang wajib dibasuh adalah anggota yang tersisa sampai kedua sikut, karena anggota yang tersisa tersebut adalah anggota yang wajib dibasuh ketika kita berwudhu.

Ketika tangan yang terpotong dimulai dari sikutnya, maka yang wajib dibasuh adalah ujung lengan atas. Tapi, apabila yang terpotong adalah bagian atas sikut, maka disunnahkan membasuh lengan atas, supaya anggota tubuhnya tetap disucikan.

Catatan..

Kita wajib menambah sedikit dari batasan tangan sampai kedua sikut supaya menyempurnakan kewajiban. Artinya, kita juga harus membasuh sedikit anggota yang berada di atasnya sikut.

Perhatikan gambar berikut:

4. Mengusap Sesuatu dari Kepala.

Dengan kata lain, mengusap sesuatu yang ada di kepala menggunakan air, baik itu yang diusap adalah sebagian rambut, atau mengusap kulit kepala bagi orang yang tidak memiliki rambut. Dan syaratnya rambut yang diusap adalah tidak boleh keluar dari batasan kepala ketika diuraikan, baik itu rambut yang lurus ataupun keriting ketika ditarik turun.

Oleh sebab itu, ketika ada orang yang membasuh kepalanya sebagai ganti mengusap kepala, atau meneteskan air di atas kepalanya meskipun tidak mengalir, atau tangannya yang ada airnya diletakkan di atas kepala, meskipun dia tidak menggerakkan tangannya itu, maka semua kegiatan tersebut telah mencukupi. Artinya, dia sudah dianggap sebagai orang yang mengusap sesuatu dari kepala.

Ditambah lagi keterangan yang diambil dari kitab Fathul Qorib:

Tidak disyaratkan dalam mengusap sebagian kepala harus menggunakan tangan. Bahkan boleh memakai kain atau lainnya untuk mengusapnya.

5. Membasuh Kedua Kaki Sampai Kedua Mata Kaki.

Fardhu yang selanjutnya adalah membasuh kedua kaki, dan kedua mata kakinya meskipun kedua mata kaki tersebut tidak berada di tempat umumnya.

Kaitan ini, para ulama sepakat bahwa yang dimaksud kedua mata kaki adalah tulang yang menonjol dan letaknya di antara betis dan telapak kaki.

Pembahasan…!

Apabila kakinya orang yang wudhu tidak memiliki dua mata kaki, maka tempatnya cukup dikira-kira kan saja seperti pada umumnya dua mata kaki itu berada. Apabila sebagian telapak kakinya terpotong, maka yang dibasuh adalah bagian yang tersisa sampai kedua mata kaki. Apabila kakinya terpotong dari atasnya dua mata kaki, maka disunnahkan membasuh kaki yang tersisa.

Penjelasan tersebut diambil dari keterangan di kitab Kasifatussaja, Syarah Safinatunnaja.

Penting.,!

Apabila di anggota wudhu terdapat sesuatu yang dapat mencegah datangnya air ke kulit, maka kita wajib menghilangkan sesuatu tersebut terlebih dahulu. Jika sudah hilang, baru kemudian kita melaksanakan wudhu. Tapi ketika kita merasa sulit untuk menghilangkannya, maka hal tersebut tidak masalah, dan wudhunya kita tetap sah.

Bagaimana dengan bekas luka?

Bekas luka, bisul dan bekas penyakit kulit lainnya tidaklah masalah, meskipun kita merasa gampang untuk menghilangkannya. Artinya, wudhu kita tetap sah meskipun di anggota wudhu terdapat bekas bisul atau bekas penyakit kulit lainnya.

Lebih lengkapnya silahkan lihat keterangan dalam kitab Khasiyatul Baijuri, Juz 1, halaman 99.

Ragu dalam Membasuh Anggota Wudhu.

Bukan hal mustahil ketika kita ragu atau bimbang kaitan membasuh anggota wudhu. Oleh sebab itu, kita harus tahu bagaimana hukumnya.

Apakah wudhunya tetap sah, atau justru sebaliknya, kita harus mengulanginya lagi supaya sah?

Tergantung dari keadaan.

Ketika keragu-raguannya setelah selesai wudhu, maka wudhunya tidak perlu diulangi.

Semisal, sesudah Kang Mursi selesai dari wudhu, kemudian dia ragu dan dalam hatinya berkata:

Tadi saya sudah mengusap sesuatu dari kepala atau belum, yeah?

Jika seperti itu, wudhunya kang Mursi tetap sah dan tidak perlu diulangi karena keragu-raguannya setelah selesai wudhu.

Beda halnya apabila ragu tapi wudhunya belum selesai. Maka bagi Kang Mursi perlu mengulangi lagi anggota yang diragukannya itu, dan kemudian menyelesaikan wudhu sampai akhir.

Bagaimana ketika keragu-raguannya berkaitan dengan niat, apakah kasusnya bisa disamakan dengan kasus di atas?

Tidak bisa disamakan.

Artinya, ketika ragu kaitan niat, maka kita perlu mengulanginya lagi meskipun keragu-raguannya muncul setelah selesai wudhu. Terlebih jika ragunya sebelum wudhunya selesai.

Keterangan tersebut dikutip dari kitab Khasiyatul Baijuri, Juz 1, halaman 102.

ولو شك في غسل عضو قبل الفراغ من الوضوء طهره وما بعده أو بعد الفراغ منه لم يؤثر بخلاف ما لو شك في النية ولو بعد الفراغ الى أن تذكر ولو بعد مدة

6. Tertib Melaksanakan Wudhu.

Fardhu wudhu yang terakhir adalah tertib dalam melaksanakan basuhan dan usapan anggota wudhu. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengacak runtutan fardhunya wudhu yang telah disebutkan.

Keenam perkara tersebut berdasarkan Nas Al-Qur’an, dan Hadits.

Empat perkara, yakni membasuh wajah, membasuh kedua tangan sampai kedua sikut, mengusap sebagian kepala, dan membasuh kedua kaki sampai mata kaki berdasarkan surat Al-Ma’idah, ayat 6.

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa tertib dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan wudhu merupakan perkara yang wajib, karena Allah menuturkan anggota yang diusap berada di antara anggota yang dibasuh.

Surat Al-Ma’idah, ayat 6 memiliki faedah, bahwa melakukan tertib merupakan perkara yang wajib. Bukan kesunnahan. Hal ini karena terdapat qorinah, atau petunjuk dari sabda nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ketika haji wada’ dan pada waktu itu para sahabat bertanya,

“Manakah yang harus kita awali, apakah dari bukit sofa atau dari bukit marwah?”.

Kemudian beliau menjawab,

“Awalilah dari apa yang Allah mengawalinya.”

Adapun dalil yang berkaitan dengan niat wudhu, adalah hadits berikut:

انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى

Lebih lengkapnya silahkan buka kitab Kasifatussaja, halaman 86.

Bagaimana dengan mandi junub, apakah harus tertib?

Mandi junub tidak diwajibkan tertib, karena diwajibkannya tertib ketika bersuci dari hadas kecil. Sedangkan seperti yang kita tahu, mandi junub termasuk contoh bersuci dari hadas besar.

Monggo dibuka kitab Khasiyatul Baijuri, Juz 1, halaman 102.

ومحل وجوب الترتيب ان لم يكن هناك حدث أكبر والا سقط الترتيب لاندراج الأصغر في الأكبر

Alhamdulillah sudah selesai, dan silahkan baca tentang kesunnahan wudhunya. semoga bermanfaat buat kita semua.

Aamiin ya Allah.

اللهم صل على سيدنا محمد

2 komentar untuk “Kitab Safinah ! 6 Fardhu Wudhu yang Wajib diketahui”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja