Alhamdulillah, semoga kunjungan Anda bersama Kang Mursi penuh dengan rasa semangat, manfaat, dan keberkahan.
Aamiin ya Allah.
Kemarin sudah saya paparkan kaitan syaratnya shalat, dan yang kita bahas sekarang berhubungan dengan rukun-rukunya.

18 Rukun Shalat Menurut Imam Syafi’i dalam kitab Fathul Qorib Beserta Bacaannya
- Niat Shalat.
- Berdiri Jika Mampu.
- Takbiratul Ihram.
- Membaca Surat Al-fatihah atau gantinya.
- Ruku’ bagi yang mampu.
- Thuma’ninah di dalam ruku.
- Bangun dari ruku dan i’tidal.
- Thuma’ninah di dalam i’tidal.
- Sujud dua kali dalam setiap rokaatnya.
- Thuma’ninah di dalam sujud.
- Duduk diantara dua sujud di setiap rokaatnya.
- Thuma’ninah di dalam duduk di antara dua sujud.
- Duduk akhir yang diiringi dengan salam.
- Tyasahud di dalam duduk akhir.
- Membaca Shalawat di dalam duduk akhir.
- Salam yang pertama.
- Niat keluar dari shalat.
- Mengurutkan rukun-rukun shalat.
Penjelasan lebih lengkapnya dan beberapa kasus yang mungkin terjadi.
1. Niat Shalat.
وأركان الصلاة ثمانية عشر ركناً أحدها (النية) وهي قصد الشيء مقترناً بفعله ومحلها القلب، فإن كانت الصلاة فرضاً وجب نية الفرضية وقصد فعلها، وتعيينها من صبح أو ظهر مثلاً أو كانت الصلاة نفلاً ذات وقت كراتبة أو ذات سبب كالإستسقاء، وجب قصد فعلها وتعيينه لا نية النفلية
Niat adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan pelaksanaannya dan tempatnya niat yaitu didalam hati.
Apabila yang dilakukan adalah shalat Fardhu, maka wajib niat kefardhuan shalat, menyengaja melakukannya, dan menentukannya.
Contoh
أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ
“Saya Niat Shalat Fardhu Duhur.”
Oleh sebab itu, niatnya tidak sah kalau tidak menyebutkan lafad Fardhu.
Contoh
أُصَلِّي الظُّهْرَ
“Saya Niat Shalat Duhur.”
Begitu juga niat Shalat tidak sah jika tidak menentukan shalat yang dilakukan.
Contoh
أُصَلِّي فَرْضًا
“Saya Niat Shalat Fardhu.”
Dari ketiga contoh niat di atas yang benar adalah contoh yang pertama sebab sudah memenuhi syarat, yakni niat kefardhuan shalat, menyengaja melakukanya dan menentukan shalat yang dilakukan.
Kenapa niatnya sangat singkat?
iya.. karena yang kita bahas adalah tentang kewajiban.. kalau niat yang lengkap seperti biasanya, berarti itu disertai dengan kesunnahan.
Sampai sini sudah paham, kan?
Alhamdulillah kalau sudah.
Tapi ketika shalat sunnah yang memiliki waktu seperti shalat sunnah rowatib, dan shalat yang memiliki sebab seperti shalat sunnah istisqa, maka yang wajib adalah menyengaja melakukanya, dan menentukannya.
Artinya, tidak wajib meniatkan kesunnahan shalat.
Contoh
أُصَلِّي الظُّهْرَ قَبْلِيَةً
“Saya Niat Shalat Qobliyah Duhur.”
Niat seperti contoh tersebut sudah cukup, karena itu sholat sunnah rowatib yang diwajibkan hanya niat melaksanakan, dan menentukan shalat yang dikerjakan.
Nanti saya buatkan artikel khusus untuk membahas tentang niat supaya lebih mudah dipahami.
Insya Allah.
2. Berdiri Jika Mampu.
و الثاني القيام مع القدرة عليه فإن عجز عن القيام قعد كيف شاء. وقعوده مفترشاً أفضل
Rukun yang kedua adalah berdiri bagi orang yang mampu. Ketika tidak mampu mengerjakan shalat wajib yang lima waktu dengan berdiri, maka boleh shalat dengan posisi duduk, akan tetapi duduk iftirasy lebih utama.
Pembahasan.
Berdiri dengan bersandar.
Kang Mursi, dia termasuk santri yang malas menggerakkan badan. Saking malasnya, dia sering shalat dalam keadaan berdiri tapi sambil bersandar di dinding.
Yang diluar dugaan, dia pernah shalat menggunakan papan tulis untuk bersandar. Melihat kejadian itu, Kang Fatoni langsung menggeser papan tulisnya sehingga kang Mursi terjatuh.
Apakah shalat yang dilakukan Kang Mursi dihukumi sah?
Shalat yang selama itu dilakukan kang mursi tetap dihukumi sah.
Meskipun demikian, hukumnya makruh apabila shalat berdiri sambil bersandar di dinding atau lainnya.
Dihukumi makruh juga bagi orang yang shalat sambil bersandar di sesuatu yang ketika sesuatu tersebut diambil, maka orangnya bisa terjatuh.
Seperti kasusnya Kang Mursi di atas, yakni bersandar di papan tulis sehingga dia terjatuh saat papan tulisnya digeser kang Fatoni.
Jawaban ini berdasarkan pada penjelasan yang tercantum di dalam kitab Fathul Mu’in
ولو باستناد الى شيئ بحيث لو زال لسقط ويكره الإستناد
Shalat dengan duduk saat naik kapal.
Tepatnya pada tanggal 25 romadhon, Kang Mursi sekeluarga melakukan perjalanan dari Kabupaten Pemalang menuju kabupaten Lampung Barat.
Rutin dan hampir setiap tahun Kang Mursi bersama keluarganya mudik ke kampung halaman yang letaknya di desa Atar Bawang, Kecamatan Batu Ketulis, Kabupaten Lampung Barat.
Ditengah perjalanan dan sebelum menaiki kapal laut, mereka berhenti sejenak di warung makan dekat pelabuhan untuk makan bersama.
Tapi, hanya Kang Mursi yang tidak mau makan dengan dalih “masih kenyang”.
Yang kemudian, dia hanya memesan satu gelas kopi hitam tanpa gula untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Akibatnya, kepala Kang Mursi merasa sangat pusing saat berada di kapal laut. Lantaran itu, dia terpaksa shalat di dalam kapal dalam keadaan duduk karena takut tidak khusu’ dan takut terjatuh apabila shalat dengan berdiri.
Jika kejadiannya seperti itu, maka shalatnya kang Mursi dihukumi sah karena mengalami kesusahan yang sangat, yakni kepala pusing yang berlebihan sehingga bisa berdampak terhadap ke khusu’an shalat.
Perhatikan keterangan berikut
ولعاجز شق عليه قيام بأن لحقه به مشقة شديدة بحيث لا تحتمل عادة وضبطها الإمام بأن تكون بحيث يذهب معها خشوعه ( صلاة قاعدا ) كراكب سفينة خاف نحو دوران رأس إن قام
3. Takbiratul ihram.
الثالث (تكبيرة الإحرام) فيتعين على القادر بالنطق بها بأن يقول الله أكبر، فلا يصح الرحمن أكبر ونحوه، ولا يصح فيها تقديم الخبر على المبتدإ كقوله أكبر الله، ومن عجز عن النطق بها بالعربية ترجم عنها بأي لغة شاء، ولا يعدل عنها إلى ذكر آخر، ويجب قرن النية بالتكبير، وأما النووي فاختار الإكتفاء بالمقارنة العرفية بحيث يعد عرفاً أنه مستحضر للصلاة
Rukun yang ketiga adalah takbiratul ihram.
Bagi orang yang mampu mengucapkan takbiratul ihram dengan lafadz الله أكبر (Allahu Akbar) maka tidak sah jika takbiratul ihram menggunakan lafadz الرحمن أكبر (Arrohmanu Akbar) atau sesamanya.
Dan tidak saha jika mendahulukan Khobar dan Mengakhirkan Mubtada seperti contoh أكبر الله (Akbaru Allah).
Lalu bagaimana jika orangnya tidak bisa mengucapkan takbiratul ihram الله أكبر dengan bahasa Arab?
Mereka yang tidak bisa menggunakan bahasa Arab saat mengucapkan takbiratul ihram, maka boleh memakai bahasa apapun yang dia bisa.
Contoh menggunakan bahasa Jawa
Allah maha Ageng.
Contoh Menggunakan Bahasa Indonesia
Allah Maha Besar.
Tapi ingat..
Hal tersebut berlaku bagi orang yang benar-benar tidak bisa menggunakan bahasa Arab. Saya juga yakin, hampir semua orang islam Indonesia pasti bisa takbiratul ihram memakai bahasa Arab الله أكبر (Allahu Akbar).
Sudah paham, kan?
Alhamdulillah.
Tidak diperbolehkan juga mengganti lafadz الله أكبر dengan dzikiran lainnya.
Letak Pengucapan Takbiratul ihram
Takbiratul ihram wajib diucapkan bersamaan dengan niat.
Namun imam Nawawi berpendapat
Sudah cukup menyertakan takbiratul ihram bersama niat menurut kebiasaan. Sekiranya menurut kebiasaan orang tersebut sudah menghadirkan shalat.
Diwajibkan juga bagi orang yang shalat agar mendengarkan takbiratul ihram yang dia ucapkan, selama pendengarannya masih normal.
Artinya, takbiratul ihram yang diucapkan harus terdengar oleh diri sendiri.
Perhatikan keterangan berikut yang dikutip dari kitab Fathul Mu’in
ويجب إسماعه أى التكبير نفسه ان كان صحيح السمع ولا عارض من نحو لغط
Tapi ingat,….
Kita jangan terlalu keras mengucapkan takbiratul ihram karena dapat menggangu orang lain. Terlebih jika sedang shalat berjamaah.
Tapi bagaimana seumpama telinganya tidak normal atau ada suara gaduh yang mengganggu pendengaran?
Ketika pendengaran telinganya tidak normal atau ada suara gaduh yang mengganggu seperti suara mesin atau lainnya, maka kewajiban kita mengucapkan takbiratul ihram dengan suara standar yang sekiranya dapat didengar oleh diri sendiri.
4. Membaca Surat Al-fatihah atau gantinya.
الرابع (قراءة الفاتحة) أو بدلها لمن لم يحفظها فرضاً كانت الصلاة أو نفلا (وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها) كاملة ومن أسقط من الفاتحة حرفاً أو تشديدة، أو أبدل حرفاً منها بحرف لم تصح قراءته ولا صلاته إن تعمد، وإلا وجب عليه إعادة القراءة
Rukun yang keempat adalah membaca Surat Al-fatihah atau gantinya jika orangnya tidak hafal surat Al-fatihah. Baik itu didalam shalat wajib ataupun sunnah.
Perlu diketahui..!
Ayat بسم الله الرحمن الرحيم termasuk dari surat Al-fatihah.
Apabila menyengaja menghilangkan salah satu huruf atau tasdid yang terdapat di surat Al-fatihah, atau mengganti huruf dengan huruf yang lain maka bacaan dan shalatnya tidak sah.
Jika tidak sengaja maka wajib mengulangi bacaan Al-fatihah dan tidak sampai membatalkan shalat.
ويجب ترتيبها بأن يقرأ آياتها على نظمها المعروف، ويجب أيضاً موالاتها بأن يصل بعض كلماتها ببعض من غير فصل إلا بقدر التنفس، فإن تخلل الذكر بين موالاتها قطعها، إلا أن يتعلق الذكر بمصلحة الصلاة كتأمين المأموم في أثناء فاتحته لقراءة إمامه، فإنه لا يقطع الموالاة
Dan wajib berurutan, yakni membaca dari ayat pertama sampai akhir secara tertib.
Wajib juga membacanya secara muwalah (terus-menerus) tanpa adanya pemisah terkecuali waktu untuk bernafas. Sehingga kalau ada dzikiran lain di antara surat Al-fatihah, maka tidak dinamakan lagi sebagai muwalah.
Oleh sebab itu, kita jangan menyertakan dzikiran lain di dalam bacaan Al-fatihah.
Bagaimana kalau ma’mum di tengah bacaan Al-fatihahnya mengucapkan Aamiin karena bacaan Al-fatihahnya imam?
Jika seorang imam selesai membaca Al-fatihahnya dan kemudian ma’mum menjawabnya dengan ucapan Aamiin meskipun ma’mum sedang membaca Al-fatihah, maka tidak memutuskan muwalah karena hal ini termasuk kemaslahatan shalat.
، ومن جهل الفاتحة وتعذرت عليه لعدم معلم مثلا وأحسن غيرها من القرآن، وجب عليه سبع آيات متوالية عوضاً عن الفاتحة أو متفرقة فإن عجز عن القرآن أتى بذكر بدلاً عنها بحيث لا ينقص عن حروفها، فإن لم يحسن قرآناً ولا ذكرا وقف قدر الفاتحة، وفي بعض النسخ وقراءة الفاتحة بعد بسم الله الرحمن الرحيم وهي آية منها
Semisal ada seseorang yang tidak mengetahui atau tidak hafal surat Al-fatihah dan dia kesulitan belajar karena tidak ada orang yang mengajarinya, akan tetapi dia hafal atau bisa membaca selain surat Al-fatihah, maka dia wajib membaca 7 ayat yang bersambungan sebagai gantinya surat Al-fatihah, atau membaca 7 ayat meskipun terpisah-pisah.
Apabila tidak bisa membaca Alquran dan tidak hafal surat Al-fatihah, maka boleh menggunakan dzikir ataupun doa sekiranya tidak kurang dari bacaan Al-fatihah.
Contoh dzikiran:
- سُبْحانَ اللهِ
- والحَمْدُ للّٰهِ
- ولا إلٰهَ إلّا اللهُ
- واللهُ أكبرُ
- ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللّٰهِ العَلِيِّ العَظيْمِ
- ما شَاءَ اللهُ كانَ
- وما لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ
Kemudian bacaan-bacaan dzikir tersebut diulang kali atau ditambah dengan dzikir lainnya sekiranya sampai pada bacaan Al-fatihah.
Karena ketika tidak diulang atau tidak ditambah tentunya kurang dari bacaan Al-fatihah.
Bagaimana kalau tidak bisa membaca Alquran, dan tidak bisa dzikiran (doa)?
Jika tidak hafal Alquran dan tidak bisa bacaan doa ataupun dzikiran, maka dia cukup berdiam diri sekiranya bacaan surat Al-fatihah.
Pembahasan.
Tidak bisa baca Al-fatihah dan ada orang yang mau mengajarinya, tapi dia tidak mau belajar.
Sebut saja dia, Kang Mursi.
Kang Mursi sadar kalau dirinya belum bisa membaca Alquran dengan benar dan tidak hafal surat Al-fatihah.
Sebenarnya, di kampung halamannya ada seorang ustadz yang mengajar ngaji, dan bersedia mengajar membaca Alquran, termasuk bacaan surat Al-fatihah.
Tapi Kang Mursi tidak mau mengikuti pengajian yang diadakan ustadz kampungnya itu, karena merasa sudah dewasa dan sudah berkeluarga.
Alhasil, kang mursi tetap melakukan shalat meskipun belum bisa membaca surat Al-fatihah.
Jika seperti itu, maka hukumnya wajib bagi kang mursi membaca Surat Al-fatihah.
Artinya, surat Al-fatihah tidak boleh diganti dengan surat atau ayat lainnya, dan tidak boleh diganti dengan dzikiran ataupun doa karena ada orang yang bersedia mengajari bacaan surat Al-fatihah.
Lihat penjelasan yang terdapat di kitab Khasiyatul Baijuri, Juz 1, halaman 287, cetakan Darul Kutub Al-Islamiyah.
بخلاف ما اذا جهلها لكن لم تتعذر عليه لوجود معلم مثلا فانه يجب عليه قراءتها
Pembahasan ini sangat penting saya sampaikan supaya kita tidak meremehkan wajibnya mengaji.
5. Ruku’ bagi yang Mampu.
الخامس (الركوع) وأقل فرضه لقائم قادر على الركوع معتدل الخلقة سليم يديه وركبتيه أن ينحني بغير الخناس قدر بلوغ راحتيه ركبتيه لو أراد وضعهما عليهما، فإن لم يقدر على هذا الركوع الحنى مقدوره وأوما بطرفه، وأكمل الركوع تسوية الراكع ظهره وعنقه بحيث يصيران كصفيحة واحدة، ونصب ساقيه وفخذيه وأخذ ركبتيه بيديه
Rukun yang kelima adalah ruku’.
Bagi orang yang fisikanya normal, kedua tangan dan lututnya tidak cacat, maka minimalnya ruku’ adalah membungkuk tanpa mencondongkan pantat, dan meletakkan kedua telapak tangan di lutut.
Sedangkan ruku’ yang paling sempurna adalah dengan cara membungkuk sambil meluruskan punggung sehingga antara leher dan punggung menjadi rata seperti lurusnya papan, meluruskan betis dan paha, dan meletakkan kedua tangan di bagian lutut.
Adapun orang yang tidak mampu ruku’ maka membungkuk semampunya dan isyarah menggunakan kedipan mata.
Berikut ini bacaan ketika Ruku’ dan sunnah dibaca sebanyak tiga kali
سُبْحَانَ اللّٰهِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ و بِحَمْدِهِ
6. Tuma’ninah.
السادس (الطمأنية) وهي سكون بعد حركة (فيه) أي الركوع والمصنف يجعل الطمأنينة في الأركان ركنا مستقلا ومشى عليه النووي في التحقيق، وغير المصنف يجعلها هيئة تابعة للأركان
Rukun yang keenam adalah tuma’ninah di dalam ruku.
Tuma’ninah adalah berdiam diri sesudah bergerak. Kyai Musonif (pengarang kitab Fathul Qorib) menjadikan tuma’ninah sebagai rukun yang tersendiri. Begitu pula imam Nawawi memberlakukan hal tersebut didalam kitab Tahqiq.
Sedangkan kyai musonif lainnya menjadikan tuma’ninah sebagai tingkah yang mengikuti pada rukun-rukun shalat.
Penting diketahui, ketika sedang ruku’ kita membaca tasbih
سُبْحَانَ اللّٰهِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ و بِحَمْدِهِ
Meskipun hanya sekali maka sudah dikatakan tuma’ninah.
7. Bangun dari Ruku’ dan I’tidal.
السابع (الرفع) من الركوع (والاعتدال) قائماً على الهيئة التي كان عليها قبل ركوعه من قيام قادر وقعود عاجز عن القيام
Rukun yang ketujuh adalah bangun dari Ruku’ dan I’tidal dengan berdiri tegak seperti tingkah sebelum ruku’ yakni berdirinya orang yang mampu berdiri, dan duduknya orang yang tidak mampu berdiri.
8. Tuma’ninah di dalam i’tidal.
الثامن الطمأنينة فيه اى الإعتدال
Rukun yang kedelapan adalah tuma’ninah di dalam i’tidal. Jadi, ketika kita bangun dari Ruku’ dan dalam keadaan sedang berdiri tegak itu kita perlu tuma’ninah.
9. Sujud Dua Kali.
التاسع (السجود) مرتين في كل ركعة، وأقله مباشرة بعض جبهة المصلي موضع سجوده من الأرض أو غيرها، وأكمله أن يكبر لهويه للسجود بلا رفع يديه ويضع ركبتيه ثم يديه ثم جبهته وأنفه
Rukun yang kesembilan adalah sujud sebanyak dua kali pada setiap rokaatnya. Paling sedikitnya sujud yakni menyentuhkan sebagian kening ke tempat sujud, baik itu tempat sujudnya berupa tanah, atau lainnya.
Adapun paling sempurnanya sujud adalah membaca takbir karena turun mau sujud tanpa mengangkat tangan, dan meletakkan lutut, kemudian kedua tangan, kemudian kening dan hidung.
Berikut ini bacaan ketika sujud
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
Catatan…
Ketika sujud keningnya wajib terbuka. Dengan kata lain, tidak boleh ada sesuatu yang menutupi kening.
10. Tuma’ninah di dalam Sujud.
العاشر (الطمأنينة فيه) أي السجود بحيث ينال موضع سجوده ثقل رأسه، ولا يكفي إمساس رأسه موضع سجوده بل يتحامل بحيث لو كان تحته قطن مثلا لانكبس وظهر أثره على يد لو فرضت تحته
Rukun yang kesepuluh adalah tuma’ninah di dalam sujud. Sekira tempat sujud menerima beban kepala.
Tidaklah cukup ketika hanya menyentuhkan kepala ke tempat sujud. Akan tetapi perlu menekan sekiranya kalau ada kapas di bawah kepala maka kapasnya bisa menjadi cekung.
Dan dampaknya membekas secara jelas di tangan apabila tangan berada di bawahnya kapas tersebut.
11. Duduk diantara Dua Sujud.
الحادي عشر (الجلوس بين السجدتين) في كل ركعة سواء صلى قائماً أو مضطجعاً، وأقله سكون بعد حركة أعضائه، وأكمله الزيادة على ذلك بالدعاء الوارد فيه، فلو لم يجلس بين السجدتين، بل صار إلى الجلوس أقرب لم يصح
Rukun yang kesebelas adalah duduk diantara dua sujud. Baik itu orang yang shalat dalam keadaan berdiri ataupun tidur miring.
Paling sedikitnya duduk adalah berdiam diri setelah gerakan tubuh, dan paling sempurnanya adalah menambahkan doa yang datang dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Berikut ini bacaan doanya
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ اْرْحَمْنِيْ و اْجْبُرْنِيْ و اْرْفَعْنِيْ و اْرْزُقْنِيْ و اْهْدِنِيْ و عَافِنِيْ و اْعْفُ عَنِّيْ
Jadi ketika tidak duduk diantara dua sujud, posisinya hanya mendekati duduk maka tidaklah sah.
12. Tuma’ninah di dalam Duduk.
الثاني عشر (الطمأنينة فيه) أي الجلوس بين السجدتين
Rukun yang keduabelas adalah tuma’ninah ketika sedang duduk diantara dua sujud.
13. Duduk Akhir yang disertai Salam.
الثالث عشر الجلوس الأخير أي الذي يعقبه السلام
Rukun yang ketiga belas adalah duduk akhir yang diakhiri dengan uluk salam.
14. Tasyahud dalam Duduk Akhir.
الرابع عشر التشهد فيه أي الجلوس الأخير وأقل التشهد
Rukun yang keempat belas adalah membaca tasyahud.
Paling sedikitnya bacaan tasyahud seperti berikut:
التَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ سَلَامٌ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ
Artinya:
“Segala kehormatan miliknya Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan Barakahnya Allah tetap tercurah kepada engkau wahai Nabi.
Semoga keselamatan tetap mengiringi kami dan kepada para hamba Allah yang sholeh.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah utusannya Allah”.
15. Membaca Shalawat Atas Nabi Muhammad.
الخامس عشر (الصلاة على النبي فيه) أي الجلوس الأخير بعد الفراغ من التشهد، وأقل الصلاة على النبي اللهم صل على محمد، وأشعر كلام المصنف أن الصلاة على الآل لا تحب وهو كذلك بل هي سنة
Rukun yang kelima belas adalah membaca shalawat terhadap nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ketika duduk akhir setelah membaca tasyahud.
Paling sedikitnya shalawat yakni
ٍاللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca shalawat atas keluarganya nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidaklah wajib. Tapi sunnah.
16. Uluk Salam yang Pertama.
السادس عشر (التسليمة الأولى، ويجب إيقاع السلامه حال القعود وأقله السلام عليكم مرة واحدة، وأكمله السلام عليكم ورحمة الله مرتين يمينا وشمالا
Rukun yang keenam belas adalah uluk salam yang pertama, yakni pas menengok ke arah kanan.
Paling sedikitnya uluk salam adalah
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم
dan dibaca cukup satu kali.
Dan paling sempurnanya uluk salam adalah
السلام عليكم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ
Dibaca sebanyak dua kali. Yang pertama saat menengok ke kanan, dan yang satunya lagi saat menengok ke kiri.
17. Niat Keluar dari Shalat.
السابع عشر (نية الخروج من الصلاة) وهذا وجه مرجوح وقيل لا يحب ذلك، أي نية الخروج وهذا الوجه هو الأصح
Rukun yang ketujuh belas adalah niat keluar dari shalat.
Akan tetapi ada juga ulama yang berpendapat kalau niat keluar dari shalat tidaklah wajib. Dan pendapat inilah yang lebih Ashoh.
Saya sendiri lebih berpegangan pada pendapat ulama yang menyatakan bahwa niat untuk keluar dari shalat bukan hal yang wajib.
18. Mengurutkan Rukun-rukun Shalat.
الثامن عشر (ترتيب الأركان) حتى بين التشهد الأخير والصلاة على النبي فيه وقوله وعلى ما ذكرناه يستثنى منه وجوب مقارنة النية لتكبيرة الإحرام ومقارنة الجلوس الأخير للتشهد والصلاة على النبي
Rukun yang terakhir adalah menertibkan rukun-rukunya shalat dari awal sampai tasyahud akhir, dan membaca shalawat atas nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Artinya, kita wajib mengurutkan rukun-rukun shalat dari awal sampai akhir.
Akan tetapi ada perkara yang dikecualikan dari pembahasan ini, yakni wajibnya niat bersamaan takbir, dan duduk akhir karena tasyahud dan membaca shalawat atas nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Kenapa dikecualikan?
Karena melaksanakan niat dan takbir tidaklah diurutkan, melainkan bersamaan.
Begitu juga dengan duduk akhir, tasyahud, dan membaca shalawat. Ketiga rukun ini dikerjakan secara bersamaan. Alias tidak berurutan.
Sudah paham kan?
Alhamdulillah, dan Kang Mursi ucapkan banyak terimakasih karena Anda berkenan membaca tulisan sederhana ini. Semoga diberi pemahaman, keberkahan, dan kemanfaatan dunia dan akhirat.
Aamiin ya Allah.
Silahkan bertanya melalui kolom komentar yang sudah disediakan apabila ada pembahasan yang belum dipahami.
Cukup sekian dan akhir kata
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barokatuh.
Update.. monggo dibaca Fardhunya wudhu.


Bgmn caranya ketika pada rakaat terakhir sang imam lupa rokaatnya lalu dia berdiri untuk rakaat kelima, dan makmum baca subhanallah, apakah imam langsung duduk tahiyyat akhir dari berdiri atau bgmn? Dan bgmn seharusnya makmum? Tetap duduk atau ikut imam berdiri jg?
Jangan mengikuti imam berdiri. Tapi menunggu imam, atau boleh niat mufaroqoh (pisah dari imam)